AksaraNewsroom.ID – Dari tangan warga pesisir Desa Batu Belubang, Kabupaten Bangka Tengah, ikan segar diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai jual. Prosesnya masih sederhana, mengandalkan tenaga manusia dan peralatan yang terbatas.
Ikan dibersihkan, kemudian direndam menggunakan garam. Setelah itu dicuci kembali untuk membersihkan sekaligus mengurangi kadar garam, sebelum akhirnya dijemur hingga siap dipasarkan.
Aktivitas tersebut menjadi bagian dari keseharian pelaku UMKM sekaligus warga pesisir yang bekerja di sentra pengolahan ikan tersebut.
Tak hanya produk utama, sisa pengolahan berupa tulang ikan masih dimanfaatkan dan dijual kembali dengan harga sekitar Rp4 ribu hingga Rp5 ribu per kilogram.
Namun, di balik aktivitas produksi yang terus berjalan, masih terdapat sejumlah persoalan yang dihadapi pekerja dan pelaku usaha. Salah satunya menyangkut besaran upah.

Salah seorang pekerja kepada Aksara Newsroom mengatakan, upah yang didapatkan mereka dibayar Rp1.000 untuk setiap kilogram ikan yang dikerjakan.
Adapun pekerja yang bertugas menjemur ikan memperoleh upah sekitar Rp70 ribu per hari.
Pengolahan ikan di Batu Belubang dilakukan dengan metode yang disesuaikan dengan jenis ikan. Ia menjelaskan, ikan dengan karakter keras dan lembut membutuhkan perlakuan berbeda.
Sebagian ikan cukup direndam dengan garam, sementara jenis lainnya diolah melalui perebusan.
Jenis ikan yang diolah antara lain blanak glamo dan bilis. Untuk ikan sembilang, harga saat ini disebut berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram, meskipun harga dapat mengalami perubahan.
Setelah proses penggaraman selesai, ikan dicuci sebelum masuk ke tahap penjemuran.
Limbah yang Masih Menghasilkan
Keterbatasan tidak membuat pelaku UMKM mengabaikan potensi ekonomi dari sisa produksi. Tulang ikan hasil pengolahan kembali dijual dengan harga sekitar Rp4 ribu hingga Rp5 ribu per kilogram.
Pemilik sentra pengolahan ikan asin itu menceritakan produk utama berupa ikan asin masih dipasarkan ke Pangkalpinang. Adapun sebagian pembeli bahkan datang langsung ke lokasi untuk mengambil produk.
Untuk menopang modal usaha, ia mengaku memanfaatkan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Sedangkan lahan yang digunakan untuk menjalankan usaha masih berstatus sewa.
Peralatan Jadi Kebutuhan Utama
Keterbatasan peralatan menjadi persoalan lain yang dihadapi pelaku usaha. Kepada Aksara Newsroom, pengelola atau pelaku usaha UMKM itu menyebut hingga saat ini belum ada bantuan peralatan yang masuk sejak mereka menjalankan aktivitas di lokasi tersebut.
Kebutuhan yang disampaikan antara lain fasilitas air, tedmon atau tangki penampungan air, serta drum.
“Untuk kebutuhan (mendesak) saat ini butuh peralatan, seperti air, tedmon dan drum,” kata dia kepada Aksara Newsroom.
Kondisi tersebut diketahui Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rina Tarol, saat turun langsung melihat aktivitas pengolahan ikan.
Rina berdialog dengan pengelola dan pekerja untuk mengetahui lebih jauh kondisi usaha tersebut.
Ia menanyakan aktivitas para pekerja hingga kondisi kesehatan mereka. Salah satunya, apakah pekerja kerap mengalami kram kaki akibat terlalu lama duduk ketika bekerja.
Mendengar besaran upah yang diterima pekerja, Rina pun memberikan perhatian khusus.
“Rp1.000 per kilogram. Bayangkan,” ujarnya.
Rina juga menanyakan ketersediaan bahan baku ikan serta bantuan yang selama ini pernah diterima pelaku usaha..
Potensi Usaha Masih Terbuka
Melihat aktivitas tersebut, Rina menilai pengolahan hasil perikanan dapat menjadi salah satu peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir.
“Peluang usaha ini banyak, asalkan mampu,” kata Rina.
Menurutnya, potensi tersebut perlu dilihat bersamaan dengan berbagai kebutuhan yang disampaikan pelaku usaha di lapangan.
Mulai dari fasilitas produksi, ketersediaan air, pasokan ikan, akses pemasaran hingga kondisi pekerja.
Rina juga melihat langsung sentra pengolahan ikan, termasuk produk ikan presto, sekaligus berdialog dengan pelaku UMKM mengenai kebutuhan mereka.
Aktivitas di Batu Belubang memperlihatkan bagaimana hasil laut tidak berhenti sebagai bahan mentah. Di tangan warga, ikan diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan menjadi sumber penghasilan. Namun, agar potensi itu berkembang, pelaku usaha masih membutuhkan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka di lapangan. (*)





















