AksaraNewsroom.ID — Potensi hasil laut di Desa Batu Belubang, Kabupaten Bangka Tengah, tidak hanya berhenti sebagai ikan segar. Di tangan warga pesisir, hasil tangkapan tersebut diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi dan dipasarkan hingga ke Pangkalpinang.
Terlihat proses pengolahan di sentra usaha masyarakat tersebut masih dilakukan secara sederhana dan mengandalkan tenaga warga setempat.
Ikan dibersihkan, direndam menggunakan garam, kemudian dicuci kembali sebelum masuk ke tahap penjemuran. Untuk jenis ikan tertentu, proses pengolahan dilakukan dengan cara direbus terlebih dahulu.
Tak hanya produk utama, sisa pengolahan berupa tulang ikan masih dimanfaatkan dan dijual kembali dengan harga sekitar Rp4 ribu hingga Rp5 ribu per kilogram.
Gambaran aktivitas tersebut terlihat ketika Anggota Komisi II DPRD Provinsi Bangka Belitung, Rina Tarol, melihat langsung sentra pengolahan ikan di Batu Belubang, yang didampingi pihak Dinas UMKM Pemprov Babel, Muslim El Hakimi.

Rina pun berdialog dengan pengelola dan pekerja untuk mengetahui bagaimana usaha tersebut berjalan, sekaligus menggali kebutuhan yang masih dihadapi masyarakat.
Menurutnya, aktivitas pengolahan hasil perikanan tersebut menunjukkan adanya peluang ekonomi yang dapat dikembangkan di kawasan pesisir.
Ia menilai potensi pengolahan hasil perikanan di Batu Belubang masih dapat dikembangkan apabila kebutuhan dasar pelaku usaha mendapat perhatian.
“Peluang usaha ini banyak, kalau mau, apalagi kalau diperhatikan dan dikelola dengan baik,” ujarnya di sela-sela melihat potensi ekonomi warga pesisir.

Rina turut menanyakan kebutuhan yang tidak hanya berkaitan dengan modal, tetapi juga sarana produksi, fasilitas air, pasokan bahan baku, pemasaran serta kondisi pekerja.
Menjawab hal itu, pelaku UMKM menjelaskan masih menghadapi keterbatasan sarana produksi. Salah satu pengelola mengaku kebutuhan yang dianggap penting antara lain fasilitas air, tedmon atau tangki penampungan air serta drum.
“Untuk kebutuhan saat ini peralatan, paling air, tedmon, drum,” kata pengelola.
Selain menanyakan kondisi kesehatan, Rina menemukan persoalan lain ketika menggali kondisi para pekerja. Persoalan bahan baku juga menjadi perhatian Rina Tarol.

Rina Tarol Menyusuri Dapur UMKM Batu Belubang
Bergantung pada Jenis Ikan
Salah seorang pengelola menjelaskan, proses pengolahan tidak dapat disamaratakan karena bergantung pada karakter ikan.
Ada ikan yang bertekstur keras dan ada pula yang lebih lembut. Perlakuannya disesuaikan dengan jenis ikan, termasuk dalam penggunaan metode perendaman maupun perebusan.
Jenis ikan yang diolah antara lain blanak glamo dan bilis.
Setelah direndam dengan garam, ikan kembali dicuci untuk membersihkan sekaligus mengurangi kadar garam. Tahap berikutnya adalah penjemuran hingga produk siap dipasarkan.
Sementara ikan asin dipasarkan ke Pangkalpinang, salah satunya di kawasan belakang Ramayana. Tidak jarang, pembeli datang langsung ke lokasi untuk mengambil produk. (*)
















