AksaraNewsroom.ID — Butuh waktu berhari-hari untuk menyelesaikan sebuah kain batik. Di Batik Asdarya, Desa Mangkol, Kecamatan Pangkalan Baru, Bangka Tengah, para pengrajin harus memastikan setiap proses dikerjakan dengan teliti.
Sedikit saja hasilnya tidak sesuai harapan, pekerjaan bisa kembali diulang.
“Pengerjaan terkadang berhari-hari, kalau tidak maksimal kami ulang lagi. Terkena keringat juga harus ulang lagi,” kata pemilik sekaligus pengrajin Batik Asdarya, Sri Budi Astuti saat ditemui Aksara Newsroom, Rabu (23/9).
Dari tempat inilah batik tulis dan batik cap diproduksi. Setelah proses membatik selesai, kain kemudian masuk ke tahap jahit yang juga dilakukan di lokasi tersebut.
“Kami ada tim penjahit sendiri. Kita juga menerima jahitan. Proses jahit juga di sini,” ujar Sri.
Namun, mempertahankan produksi batik lokal tidak hanya soal ketelitian tangan pengrajin. Ada bahan baku, peralatan, keterampilan dan pasar yang harus dipikirkan.
Untuk bahan baku, Batik Asdarya masih mengandalkan pasokan dari Pulau Jawa. Sri mengatakan harga menjadi pertimbangan utama, terlebih konsumen juga menuntut produk dengan harga yang terjangkau.
“Kami tetap dengan Jawa, pertama bahan di sana lebih murah. Di sisi lain, konsumen juga menuntut murah,” katanya.

Meski demikian, identitas produk tetap dikembangkan dari Mangkol. Sri mengatakan desain batik dibuat sendiri oleh mereka.
“Bahan dari mana? Jawa semua. Desain kami sendiri,” ujarnya.
Batik Asdarya juga memiliki rencana membangun rumah produksi di sebelah lokasi usaha saat ini. Selain tempat produksi, peningkatan keterampilan pengrajin menjadi kebutuhan lain yang ingin diperkuat.
Sri menyebut pelatihan mencanting dan pewarnaan sebagai keterampilan yang dibutuhkan.
Mengembangkan batik juga membutuhkan investasi pada peralatan. Untuk batik cap, misalnya, pengrajin membutuhkan cap dengan berbagai ukuran. Sri menyebut harga cap pola berukuran kecil sekitar Rp800 ribuan, sedangkan ukuran besar mencapai Rp1,2 juta.
“Kita beli cap pola itu yang kecil Rp800 ribuan dan yang besar itu Rp1,2 juta,” katanya.
Karena itu, dukungan yang dibutuhkan bukan hanya soal alat produksi. Sri berharap ada bantuan dalam memperluas promosi sehingga batik yang mereka hasilkan dapat menjangkau lebih banyak konsumen.
“Bantu kami untuk promosi juga,” harapnya.
Batik Asdarya juga membuka jasa penjahitan bagi masyarakat yang memiliki kain batik tetapi belum dijahit.
“Kalau ada bahan batik ibu yang belum dijahit, ayo kita jahit,” ujarnya.
Melihat Lebih Dekat Perjuangan Pengrajin Batik Lokal
Cerita tentang kebutuhan pengrajin tersebut menjadi perhatian Anggota Komisi II DPRD Bangka Belitung, Rina Tarol, saat mengunjungi Batik Asdarya, Rabu (23/9).
Rina melihat produk yang dipajang dan berdiskusi langsung dengan pengrajin mengenai proses produksi, kebutuhan usaha hingga dukungan pemerintah.
Ia menanyakan apakah Batik Asdarya telah menerima bantuan dari pemerintah daerah, termasuk dukungan peralatan seperti mesin jahit.
Bagi Rina, keberadaan usaha seperti Batik Asdarya memiliki arti lebih dari sekadar produksi kerajinan. Ada aktivitas ekonomi dan keterampilan masyarakat yang ikut bergerak. “Ini harus disupport,” kata Rina.

Rina kemudian mendorong agar pelatihan dilakukan langsung di sentra produksi Batik Asdarya. Menurutnya, pelatihan akan lebih tepat jika disesuaikan dengan kebutuhan pengrajin.
“Bagus kita bikin pelatihan di sini. Biar dikembangkan lagi,” ujarnya.
Rina juga melihat ruang pengembangan dari sisi desain. Ia mendorong pengrajin agar terus mengeksplorasi motif sehingga batik yang dihasilkan tidak monoton.
“Motif biar tidak kaku,” katanya.
Namun, menurut Rina, motif yang menarik perlu dibarengi dengan promosi yang kreatif.
“Selain itu, perlu promosi. Namun, harus kreatif,” ujarnya.
Ia juga meminta Dinas Perindustrian dan Perdagangan melihat bentuk dukungan yang bisa diberikan kepada pelaku usaha.
Menurut Rina, pemerintah daerah dapat membuka berbagai jalur dukungan. Salah satunya melalui program corporate social responsibility (CSR) perusahaan.
“Harusnya ada perhatian untuk para pelaku UMKM lokal,” katanya.
Bagi Batik Asdarya, perjalanan mengembangkan usaha masih panjang. Ada kain yang harus dicanting, warna yang harus dijaga, cap yang harus dibeli, jahitan yang harus diselesaikan, hingga pasar yang harus dicari.
Namun, dari sebuah rumah produksi di Mangkol, para pengrajin terus mencoba mempertahankan satu hal: agar keterampilan membatik tidak berhenti sebagai warisan, tetapi tetap menjadi pekerjaan yang mampu menghidupi dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
Penulis: Hendri J. Kusuma
















