https://aksaranewsroom.id/kontak/ https://aksaranewsroom.id/kontak/ https://aksaranewsroom.id/kontak/
  • Aksara Newsroom | Bertutur Dengan Data
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Newsroom
  • Pedoman Media Siber
Kamis, Oktober 22, 2026
  • Login
Aksara Newsroom
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Aksara Newsroom
No Result
View All Result
https://aksaranewsroom.id/2023/10/21/pahami-propaganda-buzzer-di-tahun-politik-berikut-pola-kerja-dan-pengaruh-negatifnya/ https://aksaranewsroom.id/2023/10/21/pahami-propaganda-buzzer-di-tahun-politik-berikut-pola-kerja-dan-pengaruh-negatifnya/ https://aksaranewsroom.id/2023/10/21/pahami-propaganda-buzzer-di-tahun-politik-berikut-pola-kerja-dan-pengaruh-negatifnya/
ADVERTISEMENT

Bukan Hanya Soal Timah, Nasib Nelayan dan Keluarga di Beriga Ikut Dipertaruhkan

Redaksi Aksara by Redaksi Aksara
22 Oktober 2026
0 0
A A
Share on FacebookShare on Twitter

AksaraNewsroom.ID — Laut bagi masyarakat pesisir bukan sekadar hamparan air asin. Di sanalah sumber penghidupan, tempat menggantungkan harapan, sekaligus penopang ekonomi keluarga dari generasi ke generasi. Namun, bagi nelayan di Desa Beriga, Bangka Tengah, keberlangsungan hidup itu kini dihadapkan pada persoalan aktivitas penambangan timah ilegal yang dinilai mengancam ruang tangkap dan lingkungan pesisir.

Udara pesisir Beriga tak lagi hanya membawa aroma garam laut. Sekitar 100 meter dari permukiman warga dan fasilitas sekolah, puluhan set mesin tambang inkonvensional (TI) ilegal dilaporkan beroperasi setiap hari. Kebisingan mesin dan kekhawatiran terhadap pencemaran menjadi bagian dari keresahan warga.

Limbah lumpur dari pencucian pasir timah yang diduga tidak terkelola dengan baik juga dikhawatirkan meresap ke tanah, mengancam sumber air bersih, serta memengaruhi ekosistem laut yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi masyarakat.

  • Baca Juga: Tolak Tambang Laut Beriga, Ribuan Massa Aksi Datangi Kantor PT Timah Pangkalpinang

Bagi mayoritas warga Beriga yang menggantungkan hidup sebagai nelayan, laut bukan sekadar tempat mencari ikan. Kelestarian wilayah tangkap hingga perairan Pulau Gelasa, yang menurut warga dapat dijangkau sampai sekitar 40 mil, menjadi bagian penting dari keberlangsungan hidup mereka.

Hendra, salah seorang nelayan setempat, menggambarkan besarnya potensi ekonomi yang dapat diperoleh dari laut ketika hasil tangkapan sedang baik.

“Alhamdulillah penghasilan kami sejahtera, kebutuhan kami untuk hidup layak ini hanya melaut saja. Sekarang sedang musim udang, satu kali melaut bisa dapat 20–40 kilogram udang size 30 yang kita jual ke tengkulak Rp85.000 per kilogram,” ungkap Hendra.

Hasil tangkapan tersebut menunjukkan bahwa laut masih menyimpan potensi ekonomi bagi masyarakat. Namun, para nelayan mengkhawatirkan aktivitas ponton tambang ilegal yang dinilai dapat mengganggu ekosistem dan keberlanjutan wilayah tangkap mereka.

Bagi nelayan, persoalan ini bukan semata-mata mengenai keberadaan tambang, melainkan juga tentang bagaimana ruang laut dikelola tanpa mengorbankan sumber penghidupan masyarakat pesisir.

Ketika Hasil Laut Menurun, Dapur Keluarga Ikut Terdampak

Dampak persoalan pesisir tidak berhenti pada nelayan yang melaut. Ketika pasokan ikan berkurang, usaha pengolahan hasil laut yang dikelola keluarga nelayan turut merasakan dampaknya.

Kelompok Koperasi Perempuan Berantai, yang diinisiasi para istri nelayan untuk memproduksi makanan olahan ikan, kini menghadapi kesulitan menjalankan kegiatan produksi.

Siti, salah seorang pengurus kelompok tersebut, mengenang masa ketika usaha kemplang ikan masih berjalan dan memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga.

“Kalau sedang produksi kemplang ikan, untung sekitar 80 persen karena kami hanya beli garam dan penyedap rasa saja. Dalam satu hari bisa meraup keuntungan dari modal Rp700.000,” paparnya.

Usaha tersebut sebelumnya menjadi salah satu cara para perempuan pesisir membantu menopang ekonomi rumah tangga. Modal yang dikeluarkan dapat berputar menjadi keuntungan ketika bahan baku tersedia dan produksi berjalan.

Namun, kondisi itu kini berubah. Ketersediaan ikan yang tidak menentu membuat kelompok tersebut kesulitan melanjutkan usaha.

“Saat ini tidak ada produksi apapun karena ikan tidak musim. Sudah lebih dari lima bulan tidak ada produksi apapun,” keluh Siti.

Berhentinya produksi selama berbulan-bulan memperlihatkan bahwa persoalan hasil laut dapat merembet ke sektor ekonomi lain yang bergantung pada perikanan. Ketika nelayan menghadapi ketidakpastian hasil tangkapan, para istri nelayan yang mengolah ikan juga kehilangan kesempatan untuk memperoleh penghasilan tambahan.

Di titik ini, persoalan laut menjadi persoalan keluarga. Ada usaha yang terhenti, ada pendapatan yang tidak lagi mengalir, dan ada harapan untuk hidup lebih sejahtera yang harus kembali diperjuangkan.

Nelayan Tak Ingin Kalah di Laut Sendiri

Di tengah keresahan terhadap aktivitas penambangan tanpa izin (PETI), muncul aspirasi dari sebagian warga agar pengelolaan pertambangan di wilayah mereka memiliki kepastian hukum, pengawasan, serta tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

Askandi, nelayan Beriga, mengungkapkan kegelisahannya mengenai kesenjangan kesejahteraan yang dirasakan nelayan dibandingkan dengan mereka yang bekerja di sektor pertambangan.

“Kami lihat kesejahteraan nelayan belum ada dibanding dengan penambang,” ujarnya.

Bagi Askandi, kondisi tersebut menjadi alasan untuk mendorong perubahan tata kelola. Ia menilai aktivitas tambang ilegal berisiko memberikan keuntungan kepada pihak tertentu, sementara masyarakat harus menghadapi dampak lingkungan dan ketidakpastian penghidupan.

Karena itu, ia berharap pengelolaan pertambangan dapat dilakukan melalui mekanisme resmi dengan melibatkan perusahaan yang memiliki kewenangan, termasuk PT Timah Tbk, disertai kepastian mengenai perlindungan lingkungan dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

“Kami ingin desa kami jadi desa contoh bagi daerah lain. Bagaimana anak yatim dan lansia bisa terbantu melalui kompensasi,” tegas Askandi.

Pernyataan tersebut memperlihatkan harapan sebagian warga agar persoalan pertambangan tidak terus berlarut-larut tanpa tata kelola yang jelas. Mereka menginginkan kesejahteraan yang lebih merata, manfaat bagi kelompok rentan, serta mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan.

Namun, kepastian pengelolaan tidak cukup hanya dengan mengubah siapa yang menjalankan aktivitas pertambangan. Perlindungan ruang tangkap nelayan, pengawasan lingkungan, transparansi kompensasi, dan pemulihan wilayah terdampak juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.

Sebab, kesejahteraan masyarakat pesisir tidak dapat diukur hanya dari aktivitas ekonomi yang berlangsung di wilayah mereka. Keberlanjutan sumber daya laut dan kemampuan keluarga nelayan mempertahankan mata pencaharian juga menjadi bagian dari ukuran kesejahteraan itu sendiri.

Menanti Tata Kelola yang Memberi Kepastian

Harapan terhadap pengelolaan resmi melalui PT Timah Tbk muncul di tengah keresahan warga atas aktivitas tambang ilegal. Bagi sebagian nelayan, keterlibatan perusahaan yang beroperasi melalui mekanisme resmi diharapkan membuka jalan bagi pengawasan, kepastian aturan, dan tanggung jawab lingkungan yang lebih jelas.

Direktur Operasional PT Timah Tbk, Handy Geniardi, menegaskan komitmen perusahaan terhadap pemulihan lingkungan pascatambang.

“Dengan menyerahkan kuasa kepada perusahan yang sah, kehancuran alam tak lagi dipandang sebagai pengorbanan tanpa batas, melainkan risiko sementara yang niscaya akan dijahit dan dipulihkan kembali,” ungkapnya.

Komitmen pemulihan tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pembahasan tata kelola pertambangan. Meski demikian, pelaksanaannya tetap perlu dibuktikan melalui langkah nyata, pengawasan, dan keterbukaan mengenai dampak lingkungan maupun hasil pemulihan di lapangan.

Bagi masyarakat Beriga, harapan terhadap tata kelola resmi pada akhirnya bertemu dengan satu pertanyaan mendasar: bagaimana memastikan kegiatan ekonomi tidak membuat nelayan kehilangan ruang hidupnya?

Sebab, laut yang menopang kehidupan mereka bukan hanya sumber komoditas, melainkan juga sumber pangan, pekerjaan, dan masa depan anak-anak pesisir.

Kisah Beriga memperlihatkan bahwa persoalan pertambangan tidak cukup dibaca sebagai urusan timah dan nilai ekonominya. Di balik aktivitas tambang, ada nelayan yang berusaha mempertahankan wilayah tangkap, perempuan yang ingin kembali memproduksi olahan ikan, serta keluarga yang menggantungkan penghidupan pada laut.

Mereka tidak sekadar menanti perubahan tata kelola. Mereka menanti kepastian bahwa kesejahteraan dapat tumbuh tanpa harus kehilangan sumber kehidupan yang selama ini mereka jaga.

Tags: Bangka BelitungBerigaDesa Batu BerigaLaut BerigaNelayanPesisir
ShareTweetSend

Related Posts

Tak Perlu Antre di Samsat, Ini Cara Bayar Pajak Kendaraan Lewat BSB Mobile

Tak Perlu Antre di Samsat, Ini Cara Bayar Pajak Kendaraan Lewat BSB Mobile

by Redaksi Aksara
20 Oktober 2026
0

AksaraNewsroom.ID – Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) kini dapat dilakukan secara digital melalui integrasi aplikasi Samsat Digital Nasional (SIGNAL) dengan...

Giliran Komisaris PT PMM Diperiksa Kejagung dalam Kasus Logam Tanah Jarang, Siapa Dia?

Kuncoro dan Adi Santoso Masih Saksi dalam Kasus PT PMM, Apa Perkembangan Penyidikannya?

by Redaksi Aksara
19 Oktober 2026
0

AksaraNewsroom.ID - Lebih dari tiga bulan sejak tiga orang ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara PT Putraprima Mineral Mandiri (PT PMM),...

BSB Cabang Koba Gandeng Titik Kumpul Mie & Kopi, Bantu Promosikan UMKM Lokal

BSB Cabang Koba Gandeng Titik Kumpul Mie & Kopi, Bantu Promosikan UMKM Lokal

by Redaksi Aksara
19 Oktober 2026
0

AksaraNewsroom.ID – Bank Sumsel Babel (BSB) Cabang Koba menggandeng pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal dalam kegiatan promosi...

Load More

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

  • 5 Smelter Timah Disita Kejagung Bakal Beroperasi Kembali, Dikelola BUMN Menugaskan PT Timah

    5 Smelter Timah Disita Kejagung Bakal Beroperasi Kembali, Dikelola BUMN Menugaskan PT Timah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bocah Perempuan Korban Diterkam Buaya Ditemukan di Dekat Perairan Jembatan Emas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Breaking News! Kejati Babel Diduga Geledah Kantor BWS Babel

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mitos Sentuh Kelamin Patung Victor Noir Cegah Kemandulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Respon Gugatan PTUN! DL Wagub Babel Telah Habiskan Rp217 Juta dalam 3 bulan, Gubernur Hidayat Ternyata Segini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
5 Smelter Timah Disita Kejagung Bakal Beroperasi Kembali, Dikelola BUMN Menugaskan PT Timah

5 Smelter Timah Disita Kejagung Bakal Beroperasi Kembali, Dikelola BUMN Menugaskan PT Timah

23 April 2024
Bocah Perempuan Korban Diterkam Buaya Ditemukan di Dekat Perairan Jembatan Emas

Bocah Perempuan Korban Diterkam Buaya Ditemukan di Dekat Perairan Jembatan Emas

4 Februari 2025
Breaking News! Kejati Babel Diduga Geledah Kantor BWS Babel

Breaking News! Kejati Babel Diduga Geledah Kantor BWS Babel

18 Juni 2025
Mitos Sentuh Kelamin Patung Victor Noir Cegah Kemandulan

Mitos Sentuh Kelamin Patung Victor Noir Cegah Kemandulan

20 Juni 2023
Ironi Proyek Ketahanan Pangan di Batu Betumpang, Petani Keluhkan Air Asin hingga Pintu Air Bocor

Ironi Proyek Ketahanan Pangan di Batu Betumpang, Petani Keluhkan Air Asin hingga Pintu Air Bocor

8
Prihatin Kondisi Dermaga Nelayan, Ketua Demokrat Babel Buka Opsi Pakai Dana Pribadi Jika Pemerintah Abai

Prihatin Kondisi Dermaga Nelayan, Ketua Demokrat Babel Buka Opsi Pakai Dana Pribadi Jika Pemerintah Abai

5
Jalan Puluhan Miliar di Basel Retak, BPJN Babel: Kalau Rusak Lagi Artinya Ada yang Salah

Jalan Puluhan Miliar di Basel Retak, BPJN Babel: Kalau Rusak Lagi Artinya Ada yang Salah

3
Skandal Ekspor Logam Tanah Jarang di Bangka Belitung Terbongkar, Kepala Bea Cukai Pangkalpinang Ikut Dijerat

Di Balik Skandal Ekspor Logam Tanah Jarang, Adakah Aktor Lain selain Oknum Pejabat Bea Cukai dan Sucofindo?

3
Bukan Hanya Soal Timah, Nasib Nelayan dan Keluarga di Beriga Ikut Dipertaruhkan

Bukan Hanya Soal Timah, Nasib Nelayan dan Keluarga di Beriga Ikut Dipertaruhkan

22 Oktober 2026
Tak Perlu Antre di Samsat, Ini Cara Bayar Pajak Kendaraan Lewat BSB Mobile

Tak Perlu Antre di Samsat, Ini Cara Bayar Pajak Kendaraan Lewat BSB Mobile

20 Oktober 2026
Giliran Komisaris PT PMM Diperiksa Kejagung dalam Kasus Logam Tanah Jarang, Siapa Dia?

Kuncoro dan Adi Santoso Masih Saksi dalam Kasus PT PMM, Apa Perkembangan Penyidikannya?

19 Oktober 2026
BSB Cabang Koba Gandeng Titik Kumpul Mie & Kopi, Bantu Promosikan UMKM Lokal

BSB Cabang Koba Gandeng Titik Kumpul Mie & Kopi, Bantu Promosikan UMKM Lokal

19 Oktober 2026
ADVERTISEMENT

Tags

ADV Advertorial Algafry Rahman Bangka Barat Bangka Belitung Bangka Selatan Bangka Tengah Bank Sumsel Babel Bawaslu Belitung Beltim BSB BUMN Bupati Bangka Tengah DPRD DPRD Babel Erzaldi Rosman Djohan Gubernur Babel Hidayat Arsani IUP Kapolda Babel KPU Lingkungan MIND ID Molen Nelayan Pangkalpinang Pangkalpinang Pemilu 2024 Pemkab Bangka Tengah Pemkot Pangkalpinang Pemprov Babel Pilkada 2024 Pj Gubernur Babel Polda Babel Politik Program CSR PT Timah Tbk PT Timah PT Timah Tbk Rina Tarol Safrizal Zakaria Ali Sawit Timah TINS UMKM
  • Aksara Newsroom | Bertutur Dengan Data
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Newsroom
  • Pedoman Media Siber

PT. AKSARA MEDIA INDONESIA - All rights reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
error: Content is protected !!
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Lingkungan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Makro
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Destinasi
    • Kuliner
    • Budaya
    • Humaniora
  • Olahraga
  • Lokal Newsroom
    • Pangkalpinang
    • Bangka Tengah
    • Bangka
    • Belitung
    • Bangka Selatan
    • Bangka Barat
  • Newsroom
    • Newsroom
    • Kontak
    • Disclaimer
  • Aksara Newsroom | Bertutur Dengan Data

PT. AKSARA MEDIA INDONESIA - All rights reserved