AksaraNewsroom.ID — Di tengah duka warga Dusun Serdang, Desa Jelutung II, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, yang kehilangan rumah dan harta benda akibat kebakaran hebat, bantuan datang untuk meringankan beban mereka.
Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Yogi Maulana, turun langsung ke lokasi bencana pada Senin (12/10/2026). Politisi Partai Gerindra itu membawa bantuan yang bersumber dari dana pribadinya, berupa uang tunai Rp100 juta, 5 ton beras, dan 10 unit tangki penampung air.
Tak hanya itu, ribuan perlengkapan pakaian dalam wanita turut disalurkan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak.
Bagi Yogi, bantuan tersebut bukan sekadar penyerahan logistik. Ia ingin memastikan dukungan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang tengah berupaya melewati masa sulit setelah kebakaran meludeskan ratusan rumah.
“Kami diperintah oleh Ketua Umum. Ketika ada masyarakat yang kesusahan, kamilah garda terdepan untuk membantu masyarakat tersebut,” ujar Yogi di lokasi bencana.
Yogi juga menyoroti pentingnya kesiapan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana kebakaran.
Ia menyampaikan duka cita atas musibah yang menimpa warga Serdang. Menurutnya, kejadian tersebut perlu menjadi bahan introspeksi bersama, bukan momentum untuk saling menyalahkan.
Yogi secara khusus mendorong Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan agar menghadirkan layanan pemadam kebakaran (damkar) di setiap kecamatan. Dengan jangkauan layanan yang lebih dekat, respons terhadap kebakaran diharapkan dapat dilakukan lebih cepat.
“Kami berduka cita atas kejadian ini. Di sini kita tidak ada waktu untuk menyalahkan siapa pun. Ini untuk introspeksi diri bagi kami semua, terutama Pemkab Bangka Selatan untuk ke depan menghadirkan damkar di setiap kecamatan,” tegasnya.
Menurut Yogi, ketersediaan armada dan luasnya jangkauan pelayanan damkar menjadi aspek penting yang perlu dievaluasi demi meningkatkan perlindungan terhadap masyarakat.
Mendengar Kebutuhan Warga, Tangki Air Langsung Disalurkan
Bantuan 10 unit tangki penampung air juga diberikan setelah Yogi mendengar langsung kebutuhan warga di lokasi kebakaran.
Di tengah kondisi permukiman yang terdampak, ketersediaan air bersih menjadi salah satu kebutuhan yang perlu diperhatikan. Namun, menurut Yogi, bantuan air saja tidak cukup jika warga tidak memiliki tempat untuk menampungnya.
“Makanya kami sarankan kepada kawan-kawan, kalau bisa bantuannya kita lihat dulu di lapangan. Jangan sampai kita cari air, tapi tempat penampungannya tidak ada. Tadi masyarakat langsung mengajukan, dan saya secara pribadi langsung memberikan 10 tedmon,” jelasnya.
Seluruh bantuan diserahkan kepada kepala desa setempat agar pendistribusiannya dapat menyesuaikan kondisi dan kebutuhan warga. Kepala desa dinilai lebih mengetahui masyarakat yang paling membutuhkan bantuan.
Yogi mengaku memiliki kedekatan emosional dengan warga Dusun Serdang. Ia memandang musibah tersebut sebagai duka bersama yang membutuhkan solidaritas banyak pihak.
“Bantuan ini kami serahkan ke Pak Kades karena beliau yang paling tahu kondisi warga. Jujur, ini desa kami, keluarga kami. Semuanya saudara kami, mudah-mudahan bantuan ini bisa sedikit membantu dan ke depan tidak ada lagi kejadian seperti ini,” ungkapnya.
Pemulihan Tak Cukup Berhenti pada Bantuan Darurat
Selain kebutuhan mendesak, perhatian terhadap pemulihan permukiman dan infrastruktur juga menjadi aspirasi warga yang diserap Yogi saat berada di lokasi.
Masyarakat berharap pemerintah pusat melalui kementerian terkait, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum (PU), dapat meninjau langsung kondisi Dusun Serdang dan membantu penanganan kebutuhan infrastruktur serta permukiman pascakebakaran.
Yogi berharap penanganan bencana tidak berhenti pada penyaluran bantuan darurat. Dukungan lanjutan dan koordinasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, serta berbagai pihak diperlukan agar proses pemulihan berjalan sesuai kebutuhan warga.
Bantuan uang tunai Rp100 juta, 5 ton beras, 10 unit tangki penampung air, dan perlengkapan kebutuhan dasar menjadi dukungan awal bagi warga untuk melewati masa sulit.
Di tengah kehilangan yang dialami masyarakat Serdang, harapan untuk bangkit kembali bertumpu pada solidaritas dan langkah pemulihan yang nyata (*)

















