PANGKALPINANG, AksaraNewsroom.ID – Minggu itu terasa berbeda di SMK Negeri 3 Pariwisata Pangkalpinang. Tak ada ulangan, bukan pula kegiatan ekstrakurikuler yang menyita perhatian. Yang membuat suasana jadi luar biasa adalah kehadiran langsung seorang Senator dari Senayan-membawa semangat kebangsaan dan menyalakan kembali nilai-nilai luhur Pancasila di hati para pelajar.
Adalah Ibu Dinda Rembulan, B.A, sosok perempuan inspiratif yang juga Anggota MPR RI dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ia hadir tak hanya sebagai narasumber, tetapi juga sebagai “kakak bangsa” yang ingin menyemai kembali semangat cinta tanah air di hati generasi muda.
Sejak aula dibuka, suasana sudah terasa berbeda. Wajah-wajah penasaran, senyum hangat, dan mata berbinar menyambut kehadiran rombongan narasumber. Suasana pun mencair ketika Dinda membuka materi pertama dengan gaya yang akrab dan membumi. Ia bercerita tentang perjuangan bangsa, peran Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, dan bagaimana seorang pelajar pun bisa menjadi penjaga nilai bangsa.
“Jangan tunggu jadi pejabat dulu untuk mencintai negeri ini. Kalian bisa mulai dari hal kecil—disiplin, jujur, tolong-menolong, dan bangga jadi pelajar Indonesia,” ucapnya tegas namun menyentuh.
Sementara itu, Andarta dan Yusmayadi, dua narasumber lainnya, turut memperkuat sesi dengan materi ringan namun penuh makna. Mereka menyampaikan bahwa undang-undang bukan hanya milik orang dewasa, dan keberagaman bukan untuk ditakuti—tapi dirayakan.
Momen paling emosional terjadi saat seorang siswa bertanya:
“Kalau kami melihat teman menyebarkan ujaran kebencian, apa yang harus kami lakukan?”
Pertanyaan itu dijawab lugas oleh Yusmayadi:
“Kalian adalah garda depan masa depan bangsa. Lawan dengan kasih sayang, beri contoh toleransi, dan jangan takut berbicara.”
Tak berhenti di sana, siswa-siswa juga menyampaikan saran inovatif. Mereka berharap sosialisasi seperti ini ke depan disertai kuis digital, video edukatif, hingga pelatihan simulasi sidang MPR. Beberapa bahkan mengajukan diri sebagai relawan Duta Kebangsaan.
Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan refleksi yang dalam. Bagi sebagian siswa, ini bukan sekadar kegiatan sekolah, tapi titik balik—mereka merasa didengar, diberdayakan, dan dipercayai menjadi bagian dari perjalanan besar bangsa.
Sebagaimana disampaikan Dinda Rembulan dalam pesannya:
“Negara ini milik kalian juga. Rawatlah dengan cinta, mulai dari hal-hal kecil, dari sekolah, dari keluarga, dari sekarang.”
Hari itu, aula sekolah bukan sekadar tempat pertemuan. Ia menjelma menjadi ruang lahirnya semangat baru—sebuah ruang yang menyemai harapan Indonesia masa depan. (*)




















