PANGKALPINANG, AksaraNewsroom.ID – Masalah sampah di Kota Pangkalpinang kian mengkhawatirkan. Setiap harinya sekitar 120 hingga 160 ton sampah dihasilkan. Volume yang besar itu membuat tempat pembuangan akhir atau TPA kian mendekati kapasitas maksimal.
Situasi ini menuntut kerja sama berbagai pihak untuk mencari solusi berkelanjutan. Di tengah tantangan tersebut, LimbahPangkalpinang.id hadir sebagai inisiatif yang berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan.
Komunitas ini menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat dalam upaya mengatasi persoalan sampah, khususnya limbah plastik.
“Kami lahir dari rasa peduli terhadap kota ini. Sampah bukan semata masalah, tapi peluang. Kalau dikelola dengan baik, bisa jadi ladang penghasilan bagi banyak orang,” ujar Aang, Direktur Utama LimbahPangkalpinang.id, dalam kegiatan Ruang Diskusi Pengelolaan Sampah yang digelar HIPMI Pangkalpinang bersama para calon wali kota, Selasa (22/7/2025).
Aang menyoroti tingginya volume sampah non-organik di kota ini, terutama dari sektor usaha seperti kafe, warung kopi, dan restoran. Menurutnya, jenis sampah seperti botol plastik dan gelas cup masih belum dikelola secara maksimal, padahal memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Sepanjang kota kita lihat banyak kafe dan warkop yang menghasilkan limbah plastik. Kalau dikumpulkan dan dikelola, ini bisa menghasilkan cuan. Sampah bisa jadi sumber pendapatan, bukan hanya beban,” tegasnya.
Saat ini, LimbahPangkalpinang.id fokus pada pengumpulan dan pengolahan sampah plastik. Namun Aang memastikan, pihaknya siap berekspansi ke jenis limbah lain di masa mendatang.
“Plastik jadi fokus awal karena paling sulit terurai dan volumenya tinggi. Tapi kami tidak menutup kemungkinan mengelola jenis limbah lainnya ke depan,” tambahnya.
Sebagai bentuk komitmen nyata, LimbahPangkalpinang.id membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, baik pelaku usaha, instansi, maupun warga untuk menampung dan membeli sampah yang mereka hasilkan.
“Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Mari lihat ini sebagai potensi, bukan semata persoalan,” tutup Aang. (*)





















