PANGKALPINANG, AksaraNewsroom.ID –
Tim SAR Gabungan berhasil menemukan dua dari delapan anak buah kapal (ABK) KM Osela yang tenggelam di perairan Karang Mardalena, Pulau Gelasa, Provinsi Bangka Belitung pada Jumat (15/8) lalu.
Dua ABK tersebut berhasil ditemukan dalam kondisi selamat pada Senin (18/8) sore oleh kapal TB PPKR9. Mereka adalah M. Riz dan Nik, yang ditemukan sekitar 7 nautical mile dari lokasi awal.
Keduanya kini langsung dibawa menuju Dermaga Kabil, Batam, Kepulauan Riau, dan dijadwalkan tiba pada Rabu (20/8).
“Kami sedang berkordinasi dengan Pos SAR Batam terkait evakuasi terhadap korban serta berkordinasi dengan pihak terkait untuk pemulangan korban ke tempat asal,” ujar Kepala Kantor SAR Pangkalpinang, I Made Oka Astawa, Selasa (19/8).
Sebelumnya, kapten kapal berinisial Ham lebih dulu ditemukan selamat oleh seorang nelayan. Dengan demikian, tiga orang sudah berhasil dievakuasi, sementara enam ABK lainnya masih dalam pencarian.
Tim SAR Gabungan terus memperluas area pencarian dengan mengerahkan KN SAR Karna serta berkoordinasi dengan kapal-kapal yang melintas.
Sebagaimana diketahui sebelumnya, (ABK) KM Osela dihantam cuaca buruk dan tenggelam di perairan Karang Mardalena, sebelah utara Pulau Gelasa, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Menurut keterangan korban yang selamat, KM Osela berangkat dari Pelabuhan Perikanan Tanjung Pandan pada 14 Agustus dengan sembilan awak untuk melaut.
Namun keesokan harinya, kapal pecah diterjang cuaca buruk dan tenggelam.
Oka mengatakan korban yang ditemukan pertama diketahui berinisial Ham, kapten kapal KM Osela. Dijelaskannya, pihaknya menerima informasi pada Senin (18/8) pukul 11.27 WIB dari seorang nelayan bernama Afen.
Berdasarkan keterangan Ham, KM Osela membawa 9 orang awak. Namun, pada 15 Agustus sekitar pukul 04.00 WIB, kapal pecah diterjang cuaca buruk dan langsung tenggelam.
“Saat kapal karam, tiga orang sempat menggunakan alat apung seadanya, sementara enam orang lainnya bertahan dengan box fiber. Hingga kini, delapan orang masih belum diketahui keberadaannya,” jelas Oka Astawa. (*)
.





















