AksaraNewsroom.ID – Penguatan harga timah dunia yang masih bertahan di level tinggi belum sepenuhnya menjadi kabar baik bagi daerah penghasil. Di tengah harga timah global yang masih berada di atas US$50.000 per metrik ton, pembelian bijih timah di Kabupaten Belitung dilaporkan terhenti.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, kondisi tersebut diduga berkaitan dengan kapasitas Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di wilayah Belitung yang telah terpenuhi. Sementara itu, kapasitas RKAB di wilayah Bangka disebut masih tersedia.
Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengelolaan RKAB, khususnya dalam memastikan momentum tingginya harga timah dunia dapat dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh wilayah penghasil.

Anggota Komisi III DPRD Provinsi Bangka Belitung, Yogi Maulana, menilai kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bagi PT Timah. Menurutnya, perencanaan RKAB seharusnya mampu mengakomodasi potensi produksi di setiap wilayah sehingga tidak menimbulkan ketimpangan dalam penyerapan bijih timah.
“Apabila di wilayah Belitung pembelian terhenti karena kapasitas RKAB telah terpenuhi, sementara di wilayah Bangka masih tersedia kapasitas, maka perlu dijelaskan apakah terdapat kendala administratif, teknis, atau ketentuan lain yang menyebabkan kapasitas tersebut belum dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. Kondisi seperti ini jangan sampai merugikan masyarakat penambang dan perekonomian Belitung,” kata Yogi.
Menurut Yogi, persoalan tersebut tidak hanya berdampak terhadap aktivitas penambang, tetapi juga berpotensi memengaruhi perputaran ekonomi masyarakat di Belitung yang selama ini turut bergantung pada sektor pertambangan timah.
Politikus Gerindra itu mendorong PT Timah melakukan evaluasi terhadap perencanaan RKAB serta memperkuat koordinasi antarsatuan operasi di Bangka dan Belitung agar distribusi kapasitas produksi dapat berjalan lebih proporsional.
Ia juga meminta perusahaan bersikap terbuka apabila terdapat ketentuan regulasi yang menghambat pemanfaatan kapasitas RKAB antarwilayah.
“Transparansi sangat penting agar semua pihak memahami persoalan yang dihadapi dan bersama-sama dapat mencari solusi terbaik,” ujarnya.
Momentum Harga Belum Tentu Dinikmati Penambang
Berdasarkan data London Metal Exchange (LME) pada perdagangan 24 Juli 2026, harga Official Cash Settlement timah tercatat sebesar US$54.090 per metrik ton, sedangkan kontrak 3-Month berada di level US$54.270 per metrik ton.
Dengan mengacu pada kurs referensi rupiah yang berada di kisaran Rp17.900 per dolar AS, nilai timah dunia saat ini setara sekitar Rp968 juta hingga Rp970 juta per ton, atau mendekati Rp1 miliar per ton.
Meski harga timah global masih berada pada level tinggi, momentum tersebut belum sepenuhnya dapat dinikmati penambang di Belitung. Pasalnya, pembelian bijih timah dilaporkan terhenti karena kapasitas RKAB di wilayah tersebut disebut telah terpenuhi, sementara kapasitas di wilayah Bangka dikabarkan masih tersedia.
Hingga berita ini diterbitkan, Aksara Newsroom masih berupaya memperoleh konfirmasi dari PT Timah terkait informasi penghentian pembelian bijih timah di Belitung. Permintaan konfirmasi telah disampaikan kepada Kepala Bidang Komunikasi Perusahaan PT Timah, Anggi Siahaan.***
Editor: Hendri J. Kusuma
















