AksaraNewsroom.ID – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Bangka Belitung terus menunjukkan tren mengkhawatirkan. Sepanjang Januari hingga Maret 2026 saja, Polda Bangka Belitung telah menangani 115 kasus.
Angka tersebut mempertegas tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024 tercatat 299 kasus, sementara di 2025 meningkat menjadi 348 kasus yang ditangani.
Dari ratusan kasus itu, hubungan korban dengan pelaku didominasi oleh relasi personal. Tercatat 66 kasus melibatkan pacar, sedangkan 54 kasus lainnya melibatkan suami.
Lonjakan ini mendorong Komisi IV DPRD Provinsi Bangka Belitung menggelar rapat dengar pendapat bersama dinas terkait hingga Polda Bangka Belitung, guna mencari langkah penanganan yang lebih efektif.
Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bangka Belitung, Heryawandi, mengaku prihatin dengan tren peningkatan kasus yang terus terjadi dari tahun ke tahun.
”Setiap tahun ternyata meningkat dimana 2024 itu di angka di bawah 300 kasus, di 2025 itu mencapai 300 lebih. Untuk di 2026 yang baru triwulan pertama, ternyata sudah mencapai 30 persen lebih dari tahun sebelumnya,” ujar Heryawandi.
Ia menegaskan, penanganan kasus tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk aparat penegak hukum.
”Hari ini mencuat bahkan mengarah ke eksploitasi terhadap anak, kita saling koordinasi menguatkan peran masing-masing untuk mengatasi persoalan ini. Peningkatan kualitas dan kuantitas inilah yang memprihatinkan kita, sehingga kita lakukan koordinasi,” tuturnya.
Menurutnya, rapat dengar pendapat ini bukan langkah terakhir, melainkan akan terus dilakukan sebagai bagian dari fungsi pengawasan DPRD.
”Terus kita lakukan secara maraton bagaimana mestinya kita melakukan penanganan, termasuk kebijakan-kebijakan yang mestinya keluar dari pemerintah daerah. Termasuk kaitannya dengan proses belajar mengajar, yang kita akan kaitkan dengan kearifan lokal,” jelasnya.
Di sisi lain, keterbatasan anggaran masih menjadi kendala dalam upaya penanganan kasus kekerasan perempuan dan anak di daerah.
”Dengan keterbatasan ini kita berharap kasus-kasus ini, tidak terus meningkat kualitas maupun kuantitasnya. Target kita tentang keterbatasan ini, mari sama-sama kita jalani dengan maksimal,” ungkapnya.
DPRD Babel Minta Dugaan Kartel Sawit Diusut, Soroti Penurunan Harga TBS yang Terjadi Serentak
AksaraNewsroom.ID - Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit di Bangka Belitung memicu dugaan adanya permainan harga di tingkat pabrik...





















