AksaraNewsroom.ID – Bagi nelayan di Pantai Puding, Kecamatan Tukak Sadai, Bangka Selatan, jeti bukan sekadar tempat menambatkan perahu. Lebih dari itu, di sanalah aktivitas mencari nafkah dimulai dan diakhiri.
Namun, jeti yang selama ini dibangun secara swadaya dengan material seadanya itu dinilai kondisinya kini memprihatinkan ataupun tidak lagi memadai.
Sementara jeti yang sebelumnya dibangun melalui program PNPM pada 2011 disebut sudah lama roboh dan tidak lagi dapat dimanfaatkan.
Meski tahun berganti, namun persoalan jeti di Pantai Puding belum beranjak. Hingga jelang akhir 2026, warga masih bertahan dengan jeti swadaya yang kondisinya semakin memprihatinkan.

Sebelumnya diungkapkan Basuki, warga nelayan setempat, mengatakan masyarakat berharap pemerintah dapat merealisasikan pembangunan jeti baru di Pantai Puding.
Menurutnya, lokasi pembangunan jeti baru juga diharapkan berada pada posisi dan arah yang lebih dekat dengan palung sehingga dapat menunjang aktivitas nelayan dengan lebih baik.
“PNPM 2011 sudah lama hancur, jadi kami meminta adanya jeti baru dengan posisi dan arahnya dekat palung,” ujarnya saat itu.
Bagi masyarakat nelayan, jeti tersebut bukan sekadar fasilitas untuk menambatkan perahu. Keberadaannya menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari warga yang menggantungkan penghasilan dari laut.
Diungkapkannya, dari jeti itulah nelayan berangkat melaut dan kembali membawa hasil tangkapan. Karena itu, kondisi infrastruktur tersebut secara langsung berkaitan dengan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Warga nelayan lainnya mengaku kecewa karena kondisi tersebut dinilai belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
Alih-alih mendapatkan pembangunan jeti yang lebih layak, masyarakat hingga kini masih harus mengandalkan fasilitas yang dibangun secara swadaya.
“Yang kami harapkan sebenarnya sederhana, pemerintah melihat kondisi kami. Jangan sampai menunggu jeti ini benar-benar rusak atau terjadi sesuatu baru ada perhatian,” katanya.
Ia menyebut terdapat ratusan nelayan yang bergantung pada keberadaan jeti tersebut. Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya menerima keluhan, tetapi juga turun langsung melihat kondisi jeti di lapangan.
Di sisi lain, masyarakat nelayan mengakuimsudah menunjukkan upaya mereka dengan membangun dan mempertahankan jeti secara swadaya. Kini, mereka berharap pemerintah hadir mengambil bagian dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur yang tidak mungkin sepenuhnya ditanggung oleh masyarakat. (*)
















