AksaraNewsroom.ID – Harga timah global masih bertahan di level tinggi menjelang memasuki September 2026. Data London Metal Exchange (LME) pada perdagangan terakhir, Jumat (28/8/2026), menunjukkan harga timah kontrak tiga bulan berada di US$55.425 per ton.
Jika dikonversikan menggunakan kurs JISDOR Bank Indonesia sebesar Rp17.703 per dolar AS pada 28 Agustus 2026, harga tersebut setara sekitar Rp981,19 juta per ton, atau Rp981.189 per kilogram.
Sementara itu, harga timah untuk cash settlement LME tercatat US$55.125 per ton. Dengan kurs yang sama, nilainya sekitar Rp975,88 juta per ton atau Rp975.878 per kilogram.
Angka tersebut menunjukkan harga timah global masih berada di sekitar level Rp1 miliar per ton, sebagaimana tren harga tinggi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan data historis LME yang dihimpun Westmetall, harga timah kontrak tiga bulan pada 24 Agustus sempat mencapai US$56.050 per ton dan kemudian bergerak turun menjadi US$55.425 per ton pada 28 Agustus.

Meski mengalami koreksi dari level tersebut, harga timah masih bertahan di atas US$55.000 per ton.
Stok LME Turun Tajam
Selain pergerakan harga, kondisi persediaan timah di gudang yang terdaftar dalam sistem LME menjadi salah satu indikator penting yang patut diperhatikan.
Pada 28 Agustus 2026, stok timah LME tercatat hanya 5.550 ton, turun 40 ton dibandingkan hari sebelumnya. Sebagai perbandingan, stok pada 31 Juli masih berada di level 6.010 ton.
Artinya, sepanjang periode tersebut stok timah LME telah berkurang sekitar 460 ton atau 7,7 persen. Jika dibandingkan dengan posisi 24 Juli yang mencapai 7.085 ton, stok pada akhir Agustus bahkan telah menyusut sekitar 21,7 persen.
Penurunan persediaan tersebut menjadi faktor yang menarik diperhatikan karena LME merupakan salah satu acuan penting dalam pembentukan harga logam industri dunia.
LME menjelaskan bahwa LME Official Prices merupakan harga referensi global harian untuk logam yang dapat diserahkan secara fisik, yang ditentukan berdasarkan proses perdagangan di LME.
Mendekati Rp1 Miliar per Ton
Dengan harga kontrak tiga bulan sebesar US$55.425 per ton dan kurs JISDOR Rp17.703 per dolar AS, nilai indikatifnya mencapai sekitar Rp981 juta per ton.
Artinya, harga acuan tersebut hanya berjarak sekitar Rp18,8 juta per ton dari level Rp1 miliar.
Namun, angka konversi tersebut bukan berarti penambang atau produsen timah di Indonesia menerima Rp981 ribu per kilogram.
Harga LME merupakan harga acuan logam timah global. Harga aktual di dalam negeri dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kadar dan bentuk produk, biaya pengolahan, premium atau diskon, biaya logistik, kondisi pasar, kontrak penjualan, nilai tukar serta kebijakan perdagangan dan pertambangan.
Harga Masih Tinggi, Pasar Tetap Perlu Dicermati
Pergerakan akhir Agustus menunjukkan harga timah masih berada pada level tinggi, tetapi momentumnya tidak sepenuhnya bergerak satu arah.
Harga kontrak tiga bulan turun dari US$56.350 per ton pada 21 Agustus menjadi US$55.425 per ton pada 28 Agustus, atau terkoreksi sekitar 1,6 persen.
Namun, dalam periode yang sama, harga masih berada jauh di atas level US$53.500 per ton yang tercatat pada 24 Juli.
Kondisi tersebut menunjukkan pasar timah global masih berada dalam fase harga tinggi dengan volatilitas yang perlu diperhatikan.
Bagi Indonesia, khususnya daerah penghasil timah seperti Bangka Belitung, perkembangan harga LME menjadi salah satu indikator penting karena perubahan harga global dapat memengaruhi keekonomian rantai bisnis timah.
Dengan harga LME yang masih berada di kisaran US$55.000 per ton, perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada apakah harga mampu kembali menembus area US$56.000 per ton, atau justru mengalami koreksi lebih jauh apabila tekanan pasar semakin kuat.
Catatan: Nilai rupiah per kilogram merupakan konversi indikatif harga LME menggunakan kurs JISDOR 28 Agustus 2026 dan bukan harga beli timah di tingkat penambang/pemasok di Indonesia.
Sumber: London Metal Exchange (LME), Westmetall dan Bank Indonesia. (***)
















