PANGKALPINANG, AksaraNewsroom.ID –
Jelang enam hari pemungutan suara Pilwako Ulang Pangkalpinang 2025, publik dikejutkan dengan kabar mundurnya sejumlah jajaran Panwaslu Kecamatan Girimaya secara bersamaan. Isu intervensi pun langsung menyeruak.
Ketua Panwascam Girimaya, Sarimin, enggan membeberkan detail alasan pengunduran dirinya dan beberapa pihak lainnya.
Namun dalam pertemuan tertutup yang berlangsung tegang, ia akhirnya mengaku mendapat intervensi dari relawan pasangan calon usai menindak dugaan pelanggaran.
“Ya, diintervensi relawan dari paslon,” kata Sarimin dengan terlihat sedikit gugup, Kamis (21/8/2025).
Ketua Tim Pemenangan Molen-Jeky, Bangun Jaya, menilai mundurnya Panwaslu Girimaya janggal. “Mereka petugas penyelenggara yang sudah bekerja keras. Jangan ditekan, ini tidak adil,” ujarnya diwaktu bersamaan, (21/8) disaat pertemuan dengan Panwaslu dan Bawaslu Pangkalpinang.
Di sisi lain, Ketua Bawaslu Pangkalpinang, Imam Ghozali, membantah keras pihaknya terlibat intervensi. Bahkan ia sampai bersumpah tidak pernah menekan Panwaslu Girimaya.
Meski membantah, Imam mengakui ada staf Panwaslu yang didatangi relawan.
“Apakah pihak Bawaslu yang meminta melakukan itu, saya tegaskan itu tidak ada,” katanya ditemui warga dan oleh para relawan parpol, Kamis (21/8/2025) di Kantor Panwas Girimaya.
“Itu tidak ada kami mengarahkan atau mengintervensi (panwaslu) bahwa harus membuat video (permintaan maaf-red). Demi Allah. (Waktu itu-red) ada staf saya disitu, itu bisa dikroscek apakah benar atau tidaknya saya itu kami sampaikan di Kantor Bawaslu Pangkalpinang,” kata dia.
Imam berkelit dirinya belum menerima surat pengunduran diri para pihak Panwascam.
“Untuk tiga orang kalau secara resmi sampai detik ini saya belum terima surat pengunduran diri mereka. Untuk alasannya, kata beliau ada salah satu stafnya diintervensi,” kata dia.
Namun, ia membenarkan adanya dugaan Intervensi yang dilakukan oleh pihak relawan kepada pihak Panwas Girimaya. Hanya, ia tak menjelaskan seperti apa bentuk interaksi itu.
Ia juga tidak menampik upaya pencegahan yang dilakukan pihak Panwaslu Girimaya itu telah benar. “Itu diduga menyebarkan bahan kampanye,” kata Iman.
“Ya, ada salah satu staf panwas diintervensi oleh pihak relawan yang datang kesini,” katanya menambahkan.
Salah satu warga yang hadir dalam pertemuan itu, mengaku bahwa pihaknya hanya ingin mengetahui kejadian apa sebenarnya yang terjadi. Mereka berkeyakinan ada yang ditutup-tutupi.
“Kami ingin keterbukaan informasi ada apa. Bicaralah kalian Penwascam. Terbuka saja. Ini sangat miris,” kata Tommy.
Sementara, menurut Bangun Jaya, alasannya hanya diintervensi oleh relawan tidaklah masuk akal. Menurutnya, tidak mungkin hanya seorang relawan sehingga membuat mereka memilih mundur.
Ia pun menduga ada pihak lainnya ikut terlibat.
“Ayolah jujur siapa mereka. Kalau hanya relawan pasti kalian lawan, ini diduga pasti penyelenggara juga. Ngomong saja dan jujur, kami ada dibelakang ka. Kami ingin tahu itu siapa,” kata Bangun.
Bangun Jaya lantas menyesalkan hal itu jika memang terjadi, apalagi telah mendekati pemungutan suara.
Menurutnya, seharusnya Bawaslu Pangkalpinang memberikan suatu penghargaan atas kinerja mereka yang bekerja sesuai prosedur dan aturan dalam upaya pencegahan dugaan pelanggaran.
Kabar ini sontak memicu tanda tanya besar. Bagaimana mungkin jajaran Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan Girimaya ini mundur bersamaan, di saat krusial menjelang pemungutan suara?
Padahal, pemungutan suara Pilwako Ulang 2025 Pangkalpinang hanya tinggal hitungan jari atau 27 Agustus 2025. (HJK/D2K).





















