TOBOALI, AksaraNewsroom.ID – Dinamika politik di Kabupaten Bangka Selatan (Basel) memasuki fase baru seiring menguatnya nama Rina Tarol sebagai calon tunggal Ketua DPD Partai Golkar di Negeri Junjung Besaoh. Munculnya figur ini dinilai menjadi momentum penting dalam peta politik.
Sebelumnya, Rina Tarol telah menyatakan kesiapannya memimpin Golkar Basel dengan target mengembalikan kejayaan partai, termasuk merebut kembali posisi strategis di lembaga legislatif.
Pengamat politik Universitas Bangka Belitung (UBB), Ariandi A. Zulkarnain menilai Rina Tarol memiliki keunggulan awal yang tidak dimiliki semua kader, yakni basis elektoral personal yang kuat, khususnya di daerah pemilihan Bangka Selatan.
“Modal elektoral personal ini menjadi aset strategis bagi Golkar untuk memperkuat posisi dalam kontestasi politik ke depan,” ujar Ariandi, Sabtu (28/3/2026) dikonfirmasi Aksara Newsroom.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kekuatan tersebut tidak cukup jika tidak diikuti dengan penguatan kelembagaan partai.
“Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mentransformasikan kekuatan personal itu menjadi kekuatan institusional agar partai tidak bergantung pada figur semata,” katanya.
- Baca Juga: Sekjen Golkar Ingatkan DPD Dituntut Proaktif Hadapi Aspirasi Masyarakat, DPRD Wajib Tindaklanjuti
Dalam konteks politik pasca Pilkada 2024, Ariandi menilai konfigurasi politik lokal di Basel cenderung kurang kompetitif. Kondisi ini justru membuka peluang bagi partai politik, termasuk Golkar untuk memperluas pengaruh.
“Minimnya oposisi efektif membuat akses terhadap kekuasaan menjadi lebih terbuka,” ujarnya.
Namun, situasi tersebut juga memiliki konsekuensi lain. Tanpa kompetisi yang sehat, kata Ariandi, partai berisiko mengalami stagnasi dan kehilangan dorongan untuk berinovasi serta memperkuat basis pemilih secara berkelanjutan.
Ariandi menilai pergantian kepemimpinan di tubuh Golkar Basel harus dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk melakukan reposisi politik.
Menurutnya, Golkar tidak cukup hanya berorientasi pada kekuasaan, tetapi juga harus memperkuat diri sebagai kekuatan elektoral yang berakar di masyarakat.
“Peluang Golkar ke depan cukup besar, tetapi sangat bergantung pada kemampuan kepemimpinan baru dalam mengonsolidasikan kekuatan internal dan memperluas basis dukungan secara terstruktur,” katanya.
Kemunculan Rina Tarol sebagai calon tunggal yang berpotensi terpilih secara aklamasi juga menjadi sorotan. “Aklamasi di satu sisi menunjukkan soliditas internal, tetapi di sisi lain juga bisa mengindikasikan terbatasnya kompetisi dan ruang kaderisasi di dalam partai,” ujar Ariandi.
Terkait arah politik Golkar ke depan, Ariandi menilai belum tentu partai akan mengambil posisi sebagai oposisi atau penyeimbang yang tegas, meskipun Rina Tarol dikenal vokal selama berkiprah di legislatif.
“Secara teoritis, perilaku partai lebih banyak ditentukan oleh insentif struktural, bukan semata karakter individu,” jelasnya.
Dalam konteks politik lokal yang kurang kompetitif, lanjut dia, partai-partai cenderung berada dalam orbit kekuasaan demi mengakses sumber daya, posisi strategis dan peluang elektoral.
Ariandi menegaskan, arah politik Golkar Basel akan ditentukan oleh dua faktor utama, yakni tingkat otonomi kepemimpinan Rina Tarol dan konfigurasi kekuasaan lokal.
“Seberapa besar ruang bagi sikap kritis itu tersedia tanpa menimbulkan risiko politik yang besar,” katanya.
Menurutnya bahwa dengan kombinasi peluang dan tantangan tersebut, kepemimpinan Rina Tarol akan menjadi penentu masa depan Golkar Basel. “Apakah mampu mengonsolidasikan kekuatan internal sekaligus membangun basis dukungan yang lebih luas atau tetap bergantung pada figur, akan menjadi ujian utama menuju kontestasi politik mendatang,” ujar Ariandi.





















