AksaraNewsroom.IDAnggota DPRD Provinsi Bangka Belitung, Rina Tarol menyoroti kebutuhan mendesak mesin pengering gabah (dryer) sekaligus ancaman alih fungsi lahan saat meninjau aktivitas rice milling atau penggilingan padi di Unit Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian (UPJA) Berkah Tani, Desa Rias, Kabupaten Bangka Selatan, Jumat.
Rina yang juga menjabat Ketua DPD Golkar Basel ini menyaksikan seluruh proses pengolahan gabah, mulai dari penggilingan hingga menjadi beras siap dipasarkan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap petani lokal, ia juga membeli hampir 100 kilogram beras hasil produksi UPJA yang selanjutnya akan dibagikan kepada masyarakat.
Tak kalah penting di sela kunjungan, Rina berdialog dengan pengurus UPJA dan petani mengenai kondisi usaha, kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan) hingga berbagai tantangan yang dihadapi dalam menjaga produktivitas sektor pangan.
Meski menjadi salah satu lumbung pangan utama di Bangka Belitung, petani masih menghadapi keterbatasan sarana pascapanen, terutama mesin pengering gabah yang sangat dibutuhkan saat musim penghujan.
“Kalau musim panas tidak terlalu menjadi masalah. Tetapi saat hujan, gabah sulit dikeringkan sehingga memengaruhi kualitas dan kapasitas produksi,” ujar pengelola UPJA.

Saat ini, UPJA Berkah Tani telah memiliki empat unit traktor dan rotavator. Namun, petani berharap pemerintah dapat menambah fasilitas pascapanen agar kualitas hasil panen tetap terjaga meski cuaca tidak mendukung.
Menyikapi hal tersebut, Rina menegaskan penguatan UPJA harus menjadi prioritas agar pelayanan terhadap petani semakin luas. Menurutnya, bantuan alsintan tidak boleh hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu, tetapi harus menjangkau lebih banyak petani melalui pengembangan UPJA.
“Jangan sampai alsintan hanya dikuasai beberapa pihak. Kita ingin UPJA bertambah sehingga ada daya saing dan manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh para petani,” tegas Rina.
Ia juga menekankan pentingnya pemerataan bantuan alsintan di setiap wilayah, disertai komitmen untuk merawat seluruh bantuan yang telah diberikan agar tetap produktif dan memiliki umur pakai yang panjang.
Selain kebutuhan alsintan, Rina turut menyoroti persoalan yang dinilai lebih mendasar, yakni ancaman terhadap keberlangsungan lahan pertanian di Desa Rias. Petani mengeluhkan sumber air yang mulai berkurang, sementara alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit mulai terjadi di sejumlah titik.
Menurut Rina, kondisi tersebut harus segera dipetakan secara menyeluruh karena Desa Rias merupakan salah satu kawasan strategis penyangga ketahanan pangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Ia meminta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) segera menyusun laporan yang memuat data riil mengenai luas lahan yang telah beralih fungsi, kondisi sumber air, debit air, hingga berbagai persoalan yang dihadapi petani di lapangan.
“Rias merupakan salah satu lokasi ketahanan pangan di Bangka Belitung. Kita membutuhkan data yang akurat agar persoalan ini bisa segera dicarikan solusi yang tepat,” ujarnya.
Rina juga menyoroti rencana pembangunan infrastruktur pengendalian banjir, termasuk pintu air dan saluran menuju laut. Menurutnya, setiap proyek harus direncanakan secara matang agar mampu mengendalikan banjir tanpa mengganggu ketersediaan air bagi areal persawahan.
Di akhir kunjungannya, Rina menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan kebutuhan petani, mulai dari penambahan UPJA, penyediaan mesin pengering gabah, pemerataan bantuan alsintan, hingga perlindungan lahan pertanian agar Desa Rias tetap menjadi salah satu penopang ketahanan pangan Bangka Belitung.

















