AksaraNewsroom.ID – Keluhan petani Desa Batu Betumpang terkait infrastruktur irigasi kembali mendapat perhatian. Sejumlah sumur bor yang dibangun untuk menunjang kebutuhan pengairan lahan pertanian disebut menghasilkan air asin sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh petani.
Tak hanya sumur bor, keluhan petani juga menyasar infrastruktur pengairan lainnya. Pintu air D. I. R, Dungun Raya yang dibangun pada 2024 kini disebut-sebut mengalami kebocoran dan retak di sejumlah bagian.
Menanggapi persoalan tersebut, Aksara Newsroom mengonfirmasi Balai Wilayah Sungai (BWS) Bangka Belitung mengenai kondisi infrastruktur yang dibangun pada 2025 itu.
Kepala Satuan Kerja Non Vertikal tertentu Pelaksana Jaringan Pemanfaatan Air BWS Babel, Syaifuddin, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima informasi mengenai persoalan sumur bor tersebut.
“Untuk sumur bor itu kami sudah mendapat informasi, kami sedang diskusikan dengan PPK-nya, Pak,” kata Saefudin dikonfirmasi Aksara Newsroom, Senin (14/9/2026).
- Baca Juga: Ironi Proyek Ketahanan Pangan di Batu Betumpang, Petani Keluhkan Air Asin hingga Pintu Air Bocor
Ia juga membenarkan adanya empat titik pekerjaan serupa yang dibangun pada Tahun Anggaran 2025.
Namun, terkait dugaan tingginya kadar garam pada air sumur bor, BWS Babel belum dapat memberikan penjelasan mengenai hasil pengujian kualitas air.
Ketika ditanyakan apakah air tersebut sebelumnya telah menjalani uji kualitas dan apakah memenuhi standar untuk kebutuhan irigasi pertanian, Saefudin mengatakan pihaknya akan terlebih dahulu melakukan konfirmasi kepada PPK.
“Menerima informasi sudah, uji kualitas air nanti kami konfirmasi dengan PPK-nya, Pak,” jawabnya.

Sementara itu, terkait proses penyelesaian pekerjaan, BWS Babel menyebut uji fungsi terhadap infrastruktur dilakukan di lapangan.
“Kalau uji fungsi di lapangan tentu dilakukan,” ujar Saefudin.
Namun, ketika ditanyakan lebih lanjut mengenai nilai anggaran pekerjaan, pelaksana proyek, hingga konsultan pengawas, Saefudin belum dapat memberikan data secara rinci.
“Kalau pintu air itu saya enggak paham siapa konsultan pengawasnya, kalau uji fungsi di lapangan tentu dilakukan. Kalau nilainya saya enggak tahu persis, Pak,” katanya.
Adapun dugaan pintu air mengalami keretakan dan bocor, BWS Babel mengaku baru menerima informasi tersebut. Persoalan lain sebelumnya turut dikeluhkan petani yakni kondisi pintu air yang disebut dibangun pada 2024. Infrastruktur tersebut dilaporkan mengalami kebocoran dan keretakan.
Saat dikonfirmasi apakah kondisi tersebut telah diketahui BWS Babel, Saefudin menyebut informasi mengenai pintu air yang rusak baru diterima pihaknya.
“Pintu yang dimaksud bocor dan retak baru kami terima infonya. Pintu bocor dan retak itu posisinya di bagian mana ya, Pak?” kata Saefudin.
“Ini baru tahu infonya, Pak,” lanjut dia.
Aksara Newsroom masih berupaya meminta penjelasan lebih lanjut kepada PPK BWS Bangka Belitung, mengenai hasil pengujian kualitas air, nilai anggaran, pelaksana pekerjaan, konsultan pengawas, serta rencana tindak lanjut atas keluhan petani tersebut. (hjk/dd)
















