TOBOALI, AksaraNewsroom.ID – Duka mendalam menyelimuti keluarga almarhum Zordan Al Hazif (10), siswa SD Negeri 22 Rias, Kabupaten Bangka Selatan, yang meninggal dunia setelah diduga mengalami perundungan dan kekerasan fisik oleh teman sekolahnya.
Kepergian korban yang masih duduk di bangku kelas 5 SD ini, menyisakan luka dan tanda tanya besar bagi keluarga, tentunya mendesak agar pihak sekolah tidak lepas tangan dan bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Menurut keterangan Doni, kerabat almarhum, gejala awal yang dialami Zordan dimulai pada Kamis, 17 Juli 2025. “Sore itu, almarhum muntah-muntah sebanyak tiga kali. Ibunya sempat mengira hanya demam biasa, lalu dibawa ke Puskesmas. Hasil pemeriksaan menyatakan bukan DBD, dan hanya diberi obat lambung,” jelasnya dikonfirmasi Aksara Newsroom, Senin (28/7) pagi.
- Baca Juga: Siswa SD di Bangka Selatan Meninggal Diduga Karena Dibully, DPRD Babel: Ini Peringatan Serius!
Namun kondisi Zordan tak kunjung membaik. Beberapa hari kemudian, ia mulai menunjukkan gejala penurunan kesadaran dan perubahan perilaku. Zordan sempat mengadu kepada neneknya bahwa perutnya sakit karena ditendang oleh teman sekolahnya. Ia juga mengeluhkan nyeri di kepala bagian belakang kanan.
“Sejak itu, ingatannya mulai hilang, sudah tidak mengenali orang-orang di sekitarnya,” lanjut Doni.
Zordan akhirnya dibawa ke RSUD Bangka Selatan pada Kamis, 24 Juli 2025. Hasil diagnosa menunjukkan adanya memar parah di bagian perut, dan dokter segera melakukan operasi. Namun, pada Minggu pagi (27/7), nyawa Zordan tak terselamatkan.
Pihak keluarga juga menyayangkan respons pihak sekolah yang dinilai tidak tanggap alias acuh tak acuh. Doni mengungkapkan bahwa Zordan sempat mengadukan perundungan kepada gurunya, namun tidak mendapat perhatian serius.
“Sebelum dibawa ke RSUD, almarhum ini pernah ditanyakan pernah bilang sama guru pernah tapi gurunya katanya nggak reta atau enggak peduli,” kata Doni.
“Padahal saat anak mengadu telah dianiaya, seharusnya guru bertindak, menanyakan siapa pelaku, dan memberitahu orang tua. Tapi ini malah seolah-olah ditutup-tutupi,” ujarnya.
Doni mengatakan, ibu almarhum juga sempat mendatangi pihak sekolah sebelum kejadian memburuk, namun menurut keluarga, pihak sekolah bersikap acuh.
Berdasarkan informasi terakhir, kata Doni, sudah ada enam siswa yang diduga terlibat dalam tindakan kekerasan terhadap Zordan, dan memang mereka sebelumnya telah diminta membuat surat pernyataan di sekolah.
“Di sini saya menekankan akan terus berjuang buat mengejar keadilan untuk almarhum, terutama untuk gurunya yang telah acuh tak acuh tak peduli ketika almarhum mengadu kalau almarhum telah dibully oleh teman-temannya,” kata Doni.
Hingga saat ini, Doni mengatakan pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka Selatan telah mengunjungi rumah duka dan menyatakan keprihatinannya.
Sementara itu saat dikonfirmasi Aksara Newsroom, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka Selatan menyatakan bahwa pihaknya akan segera memberikan keterangan resmi terkait kasus meninggalnya Zordan Al Hazif, siswa SDN 22 Rias, yang diduga menjadi korban perundungan di sekolah.
Redaksi Aksara Newsroom masih berupaya melakukan konfirmasi kepada kepala sekolah dan pihak terkait guna memperoleh penjelasan lengkap mengenai kronologi peristiwa serta langkah-langkah yang telah diambil.
Penulis: Hendri J. Kusuma/D2K





















