AksaraNewsroom.ID — Dari pelosok Rote Ndao hingga kembali ke Bangka Belitung, perjalanan Brigjen Pol. Murry Mirranda bukan sekadar tentang karier, melainkan tentang konsistensi menjaga kedekatan dengan masyarakat.
Gaya kepemimpinan itu masih melekat saat dia pulang ke kampung halaman atau tanah kelahirannya.
Momen-momen seperti itulah yang lama membentuk sosok Brigjen Pol. Murry Mirranda jauh sebelum ia kembali ke Bangka Belitung sebagai Wakapolda.
Tak heran jika ia pernah dijuluki masyarakat sebagai “jenderal pegiat sosial”, bahkan namanya sempat masuk dalam nominasi Hoegeng Awards 2022.
Di Bangka Belitung, keseharian Murry Mirranda tak jauh dari interaksi langsung dengan masyarakat. Ia kerap terlihat menyapa warga hingga terlibat dalam berbagai aksi sosial. Tak hanya itu, ia juga aktif memberi dukungan kepada kaum muda dan pelaku UMKM, sembari menghadirkan teladan pelayanan humanis dalam potret yang kerap terekam dalam aktivitasnya.

Kedekatan itu juga tak lepas dari peran sang istri. Bersama, mereka menjalankan berbagai aksi sosial, salah satunya melalui program “Mukena Wangi”. Dari satu masjid ke masjid lain, mereka membersihkan atau mencuci mukena itu, menghadirkan rasa nyaman bagi jemaah.
Yang membuatnya semakin dekat dengan masyarakat adalah gaya hidupnya yang sederhana. Di sela aktivitasnya, Murry dikenal gemar berolahraga, bahkan tak jarang ia mengendarai sepeda motor tua kesayangannya, menyusuri jalanan, baik untuk ke kantor maupun saat turun langsung ke lapangan.

Dari berbagai kiprahnya, dalam penulusuran Aksara Newsroom, ia pun dikenal sebagai “jenderal pegiat sosial”, dan pernah masuk dalam nominasi Hoegeng Awards 2022.
Kisah itu berakar dari pengabdiannya di tempat-tempat yang jauh dari sorotan. Salah satunya di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, saat ia menjabat sebagai Kapolres.
Di balik seragam dan pangkatnya, di sana, ia memilih cara yang tidak biasa. Ia tidak menunggu laporan datang ke meja. Ia yang datang lebih dulu menyusuri kampung-kampung, mengetuk pintu rumah warga dan membagikan sembako secara langsung.
Namun yang paling penting, ia mendengar dan berbaur dengan masyarakat.
Dari setiap kunjungan, ia menyerap cerita tentang kehidupan yang tak mudah, rumah yang rapuh, dapur yang sepi dan harapan yang sering kali terpendam.
Dari situlah ia menyadari, tugas polisi tidak berhenti pada penegakan hukum. Ada sisi lain yang harus dijaga: kemanusiaan.
Apa yang ia dengar tidak berhenti sebagai cerita. Ia mengubahnya menjadi tindakan. Salah satunya melalui program bedah rumah bagi warga kurang mampu. Program ini berjalan bukan hanya dengan dukungan anggaran, tetapi juga dengan kepedulian pribadi.
Dalam beberapa kesempatan, Murry bahkan merogoh kocek sendiri agar bantuan tetap sampai kepada yang membutuhkan.
Langkah itu mungkin tampak sederhana. Namun bagi warga, dampaknya jauh lebih besar. Itu bukan sekadar perbaikan rumah, melainkan bukti nyata bahwa negara hadir, tidak jauh dari mereka.
Tak heran jika kiprahnya kemudian mendapat perhatian lebih luas. Pada 2022, namanya masuk dalam nominasi Hoegeng Awards, penghargaan yang dikenal menjunjung tinggi integritas dan keteladanan.
Kini, saat ia kembali ke Bangka Belitung, tanah kelahirannya, sosok itu masih melekat, menunjukkan bahwa seragam tidak harus menciptakan batas dan jabatan tidak harus menjauhkan.
Penulis: Hendri J. Kusuma/dd

















