TOBOALI, AksaraNewsroom.ID – Keluarga Zardan Al Hazif (10), siswa SD Negeri 22 Rias, Kabupaten Bangka Selatan yang meninggal dunia diduga akibat perundungan dan kekerasan fisik di sekolah, menegaskan dukungan terhadap proses hukum yang sedang berjalan.
Namun mereka juga meminta agar seluruh proses penanganan kasus ini dilakukan secara terbuka, tanpa tekanan, dan tidak menutup-nutupi fakta di lapangan.
Pihak keluarga turut menyoroti pernyataan dari Direktur RSUD Bangka Selatan yang menyebut kematian korban akibat infeksi usus kini bersileweran di media massa.
Mereka menilai pernyataan itu terlalu dini karena otopsi secara menyeluruh belum selesai atau baru saja dilakukan.
“Beliau kan dokter, harusnya paham kalau belum ada hasil forensik. Harusnya beliau bertanya dulu dengan dokter yang menangani korban, bukan mereka mengeluarkan statement dini ketika proses otopsi sedang dijalankan,” ujar Santi, selaku tante almarhum Zordan selepas bertemu anggota DPRD Babel, Rina Tarol, Sabtu sore dikediamannya (2/8/2025).
- Baca Juga: Siswa SD Meninggal Diduga Dibully di Bangka Selatan, Ternyata Pernah Mengadu ke Guru Sekolah
Santi mengatakan pihak keluarga menghargai apapun keputusan hasil otopsi nantinya. Ia melanjutkan, tentunya pihaknya berharap proses hukum berlangsung transparan dan hasil otopsi nantinya diumumkan secara terbuka.
“Kami percaya pihak kepolisian dan semua yang terlibat akan bekerja seadil-adilnya. Tapi kami minta jangan ada yang ditutup-tutupi. Jangan ada yang diintimidasi,” tegasnya.
Menurutnya, hasil otopsi merupakan bukti kunci yang akan menentukan arah proses hukum. Keluarga pun siap menerima hasil tersebut, asalkan diumumkan secara resmi, baik melalui konferensi pers atau di ruang sidang.
“Kami hanya ingin anak kami tidak (direduksi-red) meninggal karena sakit. Kami ingin keadilan, bukan statemen sepihak,” ujarnya.
- Baca Juga: Kunjungi Rumah Duka Siswa Korban Dugaan Bullying, Rina Tarol: Kebenaran Tak Boleh Ikut Terkubur
Keluarga juga menyangkan ada anggapan bahwa Zordan meninggal akibat penyakit usus buntu. Menurut Santi, korban dalam kondisi sehat dan terakhir berobat ke Puskesmas Rias pada 17 atau 18 Juli lalu, tanpa catatan penyakit serius.
“Korban sehat walafiat. Tidak ada rekam medis penyakit apa pun. Jadi kalau disebut sakit perut karena usus buntu,” katanya.
Ia menambahkan, dokter bedah yang menangani Zordan sempat menjelaskan adanya pembengkakan usus dan kolon, yang diduga kuat dipicu pukulan atau tendangan, bukan karena infeksi.
Santi juga mengungkapkan berdasarkan pengakuan teman sekolah korban, sempat muncul dugaan bahwa perut Zordan terbentur siku meja. Di sisi lain, lanjut dia, sejak awal dokter bedah yang menangani korban telah menyampaikan bahwa terdapat pembengkakan pada usus di picu akibat pukulan.
“Dokter bedah menjelaskan bahwa pembengkakan itu dipicu oleh pukulan atau tendangan,” kata Santi.
Ia menambahkan, setelah Zordan dirawat di ruang ICU, dokter juga menyebutkan adanya pembengkakan di bagian kolon. “Itu pernyataan langsung dari dokter yang menangani,” tegasnya.
- Baca Juga: Jenazah Siswa SD Korban Dugaan Bullying Dilakukan Diotopsi, Keluarga Tegaskan Proses Hukum Berlanjut
Tak hanya itu, Santi menyampaikan kekecewaan terhadap sikap pihak sekolah yang hingga kini masih menganggap kasus ini sebatas perundungan verbal, meski telah ada pengakuan dari enam siswa terkait kekerasan fisik.
“Dua anak melakukan bullying verbal, empat melakukan kekerasan fisik. Itu sudah ada pengakuannya. Tapi wali kelas justru bilang ke kakak saya, begini sabar ya Bu, karena Hazif yang salah. Itu menyakitkan,” tutur Santi.
Ia menilai ada upaya dari pihak sekolah untuk meredam fakta yang sebenarnya. Bahkan wali kelas dinilai tidak bersikap netral dan malah menyudutkan korban.
Santi menegaskan, jika dalam proses hukum ada upaya intimidasi atau intervensi terhadap keluarga, mereka tidak akan tinggal diam.
“Kalau pun ada tekanan, kami siap hadapi. Kami ingin kasus ini tuntas, terbuka, dan tak diseret ke arah yang salah,” ungkapnya.
- Baca Juga: Siswa SD di Bangka Selatan Meninggal Diduga Karena Dibully, DPRD Babel: Ini Peringatan Serius!
Dikonfirmasi terpisah, Direktur RSUD Bangka Selatan Helen Sukendy hanya menjawab singkat soal polemik penyebab kematian Zordan. “Kita menunggu hasil otopsi aja, Bang,” ujarnya melalui pesan singkat.
Sementara itu Kepala SD Negeri 22 Rias, Cholid, belum merespons upaya konfirmasi yang dilakukan Aksara Newsroom. Pesan singkat yang dikirimkan belum dibalas.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka Selatan, Anshori, akhirnya memberikan tanggapan singkat terkait kasus meninggalnya Zordan, yang diduga menjadi korban perundungan dan kekerasan fisik di lingkungan sekolah.
Saat dikonfirmasi Aksara Newsroom, Anshori menyampaikan bahwa pihaknya memilih untuk menahan terlebih dahulu penyampaian informasi ke publik demi menjaga situasi tetap kondusif.
“Mohon maaf, sekarang lagi proses hukum di polres, mungkin langsung ke polres. Untuk menjaga situasi kondusif kami tahan dulu informasinya ya. Kita tunggu proses hukum saat ini ya,” ujarnya.
Sebelumnya sebagaimana diketahui, keluarga telah mengungkap kronologi kematian Zordan yang bermula dari gejala muntah-muntah pada 17 Juli 2025.
Setelah sempat diperiksa di puskesmas dan dinyatakan bukan demam berdarah, kondisi Zordan terus menurun. Ia mengaku mengalami sakit perut karena ditendang teman sekolahnya, serta nyeri di kepala bagian belakang.
Zordan sempat dibawa ke RSUD Bangka Selatan pada 24 Juli dan didiagnosis mengalami memar parah di bagian perut hingga harus menjalani operasi. Sayangnya, ia menghembuskan napas terakhir pada Minggu pagi, 27 Juli 2025.
Redaksi Aksara Newsroom masih berupaya menghubungi walik kelas sekolah korban serta pihak-pihak terkait untuk mendapatkan penjelasan lengkap dan kronologi resmi kejadian.
Penulis: Hendri J. Kusuma/D2K





















