AksaraNewsroom.ID — Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Noni Hidayat Arsani, mengunjungi pusat oleh-oleh dan kriya Somba Opu, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (10/7/2026).
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung beragam produk kerajinan unggulan yang dikembangkan pelaku UMKM setempat.
Dalam kunjungan tersebut, Noni mengapresiasi kreativitas dan inovasi para perajin Makassar yang mampu mengolah kain tenun khas daerah menjadi berbagai produk fesyen bernilai tambah, mulai dari tas hingga aksesori dengan desain yang beragam dan harga yang terjangkau.
“Kami sudah melihat berbagai produk UMKM di sini. Dari sisi kerajinan maupun bahan yang digunakan, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang kita miliki di Babel, seperti Tenun Cual. Bedanya, di sini kain tenun dikembangkan menjadi tas dengan model yang sangat variatif dan harga yang terjangkau,” ujar Noni.
Menurutnya, produk-produk tersebut menunjukkan bahwa inovasi desain dan pengemasan memiliki peran penting dalam meningkatkan daya saing kerajinan daerah.
Ia mencontohkan tas berbahan kain tenun khas Makassar yang dipasarkan mulai sekitar Rp100.000, sementara produk yang dipadukan dengan material kulit dijual sekitar Rp200.000 dengan kualitas jahitan yang rapi.
“Ini yang bisa kita contoh. Bagaimana menghasilkan produk menarik dengan kualitas jahitan yang baik, model yang beragam, dan harga tetap terjangkau. Semoga pengalaman ini dapat kita implementasikan untuk pengembangan produk kriya di Babel,” katanya.
Noni menilai kunjungan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi Dekranasda Babel untuk mengembangkan produk kriya dan UMKM serta mendorong inovasi produk kriya berbasis Tenun Cual dan potensi lokal lainnya di Babel, sehingga potensi kerajinan daerah semakin dikenal luas dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat terutama para perajin.
“Melalui pengembangan desain, kualitas produksi, dan nilai tambah produk, kriya Babel diharapkan semakin kompetitif serta mampu menjangkau pasar yang lebih luas tanpa meninggalkan identitas budaya daerah,” tutupnya.**


















