AksaraNewsroom.ID – Cuaca ekstrem tidak hanya menjadi ancaman bagi nelayan saat melaut. Di Tanjung Ketapang, Kecamatan Toboali, Bangka Selatan, gelombang juga mengancam kapal-kapal nelayan yang tengah terparkir di bibir pantai.
Persoalan tersebut disampaikan langsung nelayan kepada Anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung (Babel), Rina Tarol, yang menyempatkan bertemu dengan nelayan Tanjung Ketapang.
Salah seorang nelayan, Haji Hasan, mengungkapkan kondisi tambat perahu menjadi persoalan serius ketika cuaca ekstrem melanda. Fasilitas tambat yang digunakan nelayan saat ini masih bersifat sementara dan dibuat secara swadaya.
Para nelayan memanfaatkan batang pohon kelapa yang ditancapkan ke dasar laut sebagai titik tambatan kapal.
Namun, kata Hasan, konstruksi sederhana tersebut dinilai tidak mampu menahan tekanan kapal ketika dihantam gelombang.
“Perahu kami itu sudah ada yang tenggelam. Tambat tidak kuat nahan daya perahu jadi kapal-kapal nelayan itu benturan. Ini kami bikin (tambat darurat) patungan dari batang kelapa, jadi bertahan tiga bulan akibat cuaca ekstrem,” ungkap Hasan.
Menurutnya, ketika gelombang besar datang, kapal-kapal yang berada di tambatan berisiko saling berbenturan.
Kondisi tersebut bukan hanya dapat menyebabkan kerusakan kapal, lanjutnya, tetapi juga mengancam aset utama yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Diungkapkan dia, tambatan yang dibuat dari batang kelapa hanya mampu bertahan dalam waktu terbatas. Setelah itu, nelayan kembali harus melakukan perbaikan secara swadaya.
Karena itu, nelayan berharap pemerintah dapat membangun fasilitas tambat perahu yang lebih kokoh dan permanen.
“Kami minta tambat itu setidaknya dicor,” pintanya.

Menyikapi masalah itu, Rina mengatakan persoalan tersebut menjadi perhatian pihaknya. Menurutnya, keberadaan fasilitas tambat yang kuat merupakan kebutuhan mendasar.
Ia menyebut bahwa kapal bukan hanya alat untuk melaut, tetapi juga aset bernilai ekonomi yang menjadi tumpuan kehidupan keluarga bagi para nelayan.
“Namun, tanpa fasilitas tambat yang memadai, tentu menjadi kekwatiran tersendiri dan risiko kerusakan bahkan kehilangan kapal bagi nelayan akibat hantaman gelombang,” ujarnya.
Persoalan itu tentunya menjadi bahan bagi Rina Tarol untuk diperjuangkan dan mencari solusi yang dapat menjawab kebutuhan nelayan dalam waktu dekat melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan dinas terkait.
Di sisi lainnya, ia pun mengingatkan masyarakat agar bersama-sama menjaga keberlangsungan laut sebagai sumber penghidupan. “Pesan saya, jaga laut kita untuk ke depan,” ujar Rina, yang disampaikan saat bertemu dengan para nelayan di Batu Perahu. (hjk/D2K)

















