Laporan khusus tentang sawah di Rias, Toboali, Bangka Selatan, dalam bentuk artikel, foto, video, dan grafis, yang akan dipublikasikan secara bertahap.
TOBOALI, AksaraNewsroom.Id – Desa Rias dikenal sebagai lumbung pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung karena areal persawahannya yang luas dan menjadi penyuplai pangan utama serta pusat ekonomi sektor pertanian di Kabupaten Bangka Selatan.
Areal persawahan yang dibangun pada era tahun 1980-an itu menjadi tulang punggung bagi penyuplai pangan daerah dan salah satu pusat pergerakan ekonomi Kabupaten Bangka Selatan, utamanya sektor pertanian.
Berdasarkan data tahun 2016, potensi lahan sawah tercatat seluas 3.013 hektare. Total luas lahan sawah aktif digarap mencapai 1.758 hektare. Sedangkan data teranyar total luas sawah sudah bertambah jadi 1.800 hektare.
Rias menjadi episentrum pertanian di Pulau Bangka. Keberhasilan pertanian padi sawah di Rias menginspirasi bagi kabupaten lainnya sehingga pembukaan dan perluasan areal persawahan menyebar.
Karenanya, pemerintah pusat dan daerah memberikan perhatian lebih ke Rias. Berbagai program bantuan dan proyek infrastruktur digelontorkan demi menjunjang keberhasilan petani dan meringankan beban bagi petani dalam mengolah sawah.
- Baca Juga: Petani Menjerit! Rina Tarol Endus Indikasi Pembiaran Perambahan Kawasan Cadangan Air Bikang-Jeriji Ditanami Sawit!
Miliaran rupiah duit terus mengalir. Pada tahun 2018, melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, digelontorkan duit sebesar Rp 57.870.810.000, untuk rehabilitasi Bendungan Mentukul. Proyek tersebut dilaksanakan oleh PT Nindya Karya Muslim, sebagai pemenang tender.
Kemudian, pada tahun 2024, duit APBN kembali digelontorkan sebesar Rp 18.048.811.000 untuk membangun jaringan irigasi Bendungan Mentukul.
Adapun sesuai kontrak kerja pembangunan dilaksanakan oleh PT Graha Anugrah Lestari, dengan konsultan/supervisi PT Duta Buanajaya – PT Karta Indah Pramudhita. Sedangkan CV. Bintang Sembilan KSO dengan nilai kontrak sebesar Rp 860.317.710.
Tak hanya itu, lewat Kasatker OP BWS Babel, duit juga mengalir untuk pemeliharaan rutin. Belakangan, Kejaksaan Tinggi Kepulauan Bangka Belitung, telah melakukan penyelidikan untuk membongkar indikasi kecurangan dalam proyek ini. Pejabat hingga pegawai BWS Babel sudah dipanggil untuk diperiksa. Hingga kini proses pengusutan masih dilakukan Kejati Babel.
Namun sayangnya, belum banyak informasi yang bisa diperoleh terkait pengusutan ini. Termasuk para petinggi BWS babel bungkam dan terkesan menghindar dari awak media.
Meski sudah banyak duit digelontorkan, hasilnya tidak sepadan dengan harapan dan dana yang sudah digelontorkan. Kualitas bangunan proyek diduga di bawah standar. Dinding irigasi yang disemen itu nyaris setiap jarak 1 meter retak memanjang. Meski berupaya dipoles alakadarnya, namun tidak bisa menutupi pekerjaan yang diduga tidak sesuai spek tersebut. Sejumlah saluran juga jebol sehingga air mengalir keluar saluran.
Selain Mentukul, BWS Babel pada 2022, memperbaiki embung Kolong Yamin, Desa Rias. Meski bukan sumber air primer, namun dari Kolong Yamin, BWS memproyeksi bisa mengairi sawah Rias seluas 500 hektare. Maka duit sebesar Rp 11.307.357.800 digelontorkan. Tender dimenangkan PT Graha Anugerah Lestari.
Hasilnya? Hingga kini embung Kolong Yamin belum memberikan manfaat yang berarti bagi petani. Bahkan, dinding kolong sudah retak, pecah, bahkan amblas di sana sini. Boro-boro jadi penampung air sehingga bisa dialirkan untuk mengairi sawah petani. Panas sepekan saja, debit air menyusut drastis.
Meski hasil pengerjaan proyek ditengarai asal jadi, tak menyurutkan BWS Babel untuk mengarahkan duit APBN agar digelontorkan ke Rias. Buktinya, pada tahun 2025 ini, dari data LPSE dianggarkan lagi paket proyek “Rehabilitasi Jaringan Irigasi di Rias, senilai Rp 18.500.000.000. Namun dari data LPSE status proyek tender gagal, 27 Februari 2025 s/d 01 Mei 2025.
- Baca Juga: Selain Soroti Proyek BWS, Rina Tarol Bahas Alih Fungsi Lahan Pertanian Masif di Batu Betumpang
Ancaman Kekeringan
Seperti kata pepatah, “Sudah jatuh, tertimpa tangga”. Seperti itulah nasib yang dialami petani sawah di Rias. Selain soal teknis bertani seperti kesulitan pupuk, mengatasi hama dan seabrek persoalan yang saling bertemali. Kini muncul pula masalah yang tak kalah serius.
Ancaman kekeringan mengintai beberapa titik areal persawahan Rias. Pasalnya, daerah aliran sungai diantara perbatasan Jeriji dan Bikang, bahkan rawa rambut tak jauh dari bendungan, telah ditanami sawit, yang merupakan kawasan penyuplai air ke Bendungan Metukul.
Meski sudah diprotes petani, namun pemilik kebun tidak menggubrisnya. Tak hanya itu, ditengarai, diam-diam ratusan hektare lahan sawah namun belum digarap lantaran kesulitan air, kini sudah berpindah tangan. Dikuasai sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit dan sejumlah cukong.
Tak hanya itu, kawasan hutan di hulu Bendungan Mentukul, yang belum pernah dibuka, kini dibabat secara ugal-ugalan untuk perkebunan kelapa sawit. Hulu itu tepat berada di kedua sisi Jalan Raya Toboali atau di Desa Bikang, atau kawasan hutan antara Desa Jeriji dan Desa Bikang.
Hingga kini, sedikitnya sekitar 400 hektare hutan tersebut sudah babak bingkas dihajar alat berat eksavator. Dari informasi di lapangan rencananya areal tersebut sekitar 1.500 hektare akan dibabat dan ditanami kelapa sawit. Hingga kini perusakan hutan masih berlangsung.
- Baca Juga: Ditreskrimsus Polda Babel Benarkan Sedang Selidiki Proyek Dermaga Plengsengan Tanjung Gading
Meski terang-terangan, belum ada pihak yang bersuara menyatakan bertanggung jawab atas pembukaan lahan tersebut dan siapa yang memberikan izin perkebunan tersebut. Namun, dari informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber menyebutkan ada “orang kuat” yang berada dibalik perusakan hutan.
“Orang kuat” tersebut, selain dikenal punya ratusan hekatre perkebunan kelapa sawit dan menguasai lahan ratusan hektare di Pulau Bangka, dia dikenal luas sebagai politisi senior yang berkiprah di tingkat nasional.
Bukan tak ada protes dari masyarakat. Tapi! Protes itu membentur tembok-tembok kekuasaan.
Jika perusakan hutan ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin, ancaman kekeringan benar-benar menjadi kenyataan. Jika demikian, 1.800 hektare sawah di Rias akan tinggal nama. Lumbung pangan yang dibanggakan hanya tinggal kenangan. Program ketahanan pangan nasional lewat Astacita yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, bakal gagal total di Rias! (red/*)
Editor : Hendri J. Kusuma/D2K





















