BANGKA, AksaraNewsroom.ID – Penolakan terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Pulau Kelasa, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, kembali digaungkan.
Pulau Kelasa bagi nelayan setempat bukan sekadar hamparan daratan, melainkan ruang hidup dan benteng ekologi.
Warga Desa Batu Beriga bersama WALHI Kepulauan Bangka Belitung menegaskan sikap mereka melalui kegiatan nonton bareng film dokumenter yang menyoroti ancaman nuklir dan kekayaan ekologi Pulau Kelasa, Minggu lalu (31/7).
“Ini merupakan kali kedua WALHI Bangka Belitung melakukan kegiatan nobar film dokumenter Ekspedisi Pulau Kelasa. Sebelumnya, kegiatan tersebut dilaksanakan di Dusun Tanjung Berikat yang dihadiri oleh masyarakat, akademisi dan mahasiswa serta pegiat lingkungan,” ungkap Regi Yoga Pratama, Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Bangka Belitung.
Film tersebut menyoroti kekayaan ekosistem Pulau Kelasa dan memberikan gambaran bahaya PLTN.
“Di tengah ancaman krisis iklim global dan ketimpangan penguasaan ruang, terbitnya persetujuan evaluasi oleh BAPETEN pada 30 Juli 2025 lalu secara tidak langsung telah melegitimasi perampasan ruang hidup nelayan pesisir dan mengancam keberlanjutan ekologi Pulau Kelasa,” terang Regi.
Bagi nelayan, Pulau Kelasa adalah ruang hidup, identitas budaya, navigasi tradisional, hingga tempat berteduh saat badai.
“Nelayan Batu Beriga memanfaatkan perairan Pulau Kelasa untuk mencari sotong dan ikan karang. Selain takut dengan bahaya radiasi nuklir, rencana pembangunan PLTN juga akan membatasi akses nelayan,” tutur Sayidina, nelayan sotong Pulau Kelasa.
Menurut warga, tawaran penyediaan fasilitas seperti dermaga nelayan, lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal, pembelian hasil tangkapan, hingga listrik murah dan program pelestarian lingkungan dari PT Thorcon Power Indonesia hanyalah kepura-puraan investasi yang justru mengancam ruang hidup nelayan.
“Dalam 20 tahun terakhir, kami sudah terbiasa menghadapi ancaman perusakan dan perampasan ruang hidup kami di laut. Jauh sebelum janji yang ditawarkan PT Thorcon, sebelumnya PT Timah dan mitra juga menawarkan hal yang sama. Pesan saya kepada pemerintah dan pengusaha, hubungan nelayan Batu Beriga dengan laut bukan hanya sekedar hubungan ekonomi saja. Menukar laut dengan hal-hal tersebut telah mencederai kami yang menjaga nilai-nilai dari nenek moyang kami,” ujarnya.
Lebih lanjut, diungkapkan Sayidina, “Maka dari itu, nelayan Batu Beriga berkomitmen menjaga laut dan tetap akan menolak segala bentuk perusakan terhadap laut kami,” ujarnya. (red/*)





















