AksaraNewsroom.ID – Kerusakan Dermaga Penyeberangan Sadai yang menyebabkan terhentinya beroperasi terus memicu perhatian publik. Polemik tidak hanya berkutat pada penyebab kerusakan infrastruktur, tetapi menyeret dugaan aktivitas bongkar muat sawit berlangsung di kawasan pelabuhan.
Meski demikian, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Prasarana Teknis Perhubungan (PPTP) Kabupaten Bangka Selatan, Giovani, membantah adanya aktivitas tongkang sawit di Pelabuhan Sadai.
Menurut dia, kerusakan yang terjadi pada dermaga penyeberangan tidak berkaitan dengan aktivitas tersebut.
“Tidak ada aktivitas tongkang sawit kalau di Pelabuhan Sadai,” kata Giovani dikonfirmasi Aksara Newsroom, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, kerusakan yang menyebabkan layanan penyeberangan terhenti lebih disebabkan faktor usia infrastruktur yang telah beroperasi cukup lama. “Faktor usia pak, dikarenakan konstruksi MB (movable bridge) tersebut sudah cukup tua,” ujarnya.
Sementara itu, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Bangka sebelumnya juga menyatakan bahwa aktivitas tongkang sawit tidak menggunakan dermaga penyeberangan yang mengalami kerusakan.
Klaim lainnya, ASDP menegaskan tongkang bersandar di fasilitas yang berbeda.
Namun di sisi lainnya, dokumentasi yang beredar di masyarakat memperlihatkan aktivitas pengangkutan sawit melalui jalur laut di kawasan Pelabuhan Sadai yang secara visual diduga kuat berada di fasilitas penyeberangan.
Saat dikonfirmasi kembali dengan menunjukkan dokumentasi aktivitas bongkar muat tersebut, pihak ASDP tidak membantah lokasi dalam foto berada di Dermaga Pelabuhan Penyeberangan Sadai.
“Kalau di poto ini di Dermaga Pelabuhan Penyeberangan Sadai,” kata Supervisor Pelabuhan Penyeberangan Sadai PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bangka, Dedy Triwijaya, Rabu (24/6).
“Untuk penjelasan terkait dermaga pelabuhan penyeberangan sadai abg bisa konfirmasi ke pihak Dishub Basel ya, kalau kami operator kapal saja,” lanjut dia.
Meski demikian, dugaan keterkaitan aktivitas itu dengan kerusakan dermaga masih perlu ditelusuri lebih lanjut dan menunggu penjelasan resmi dari pihak berwenang.
- Baca Juga: Ditreskrimsus Polda Babel Benarkan Sedang Selidiki Proyek Dermaga Plengsengan Tanjung Gading
DPRD Babel Minta Ditelusuri
Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rina Tarol, mengaku tidak terkejut dengan mencuatnya isu tersebut. Pasalnya, kata dia, laporan terkait aktivitas tongkang sawit di kawasan Pelabuhan Sadai telah berulang kali disampaikan masyarakat.
“Sudah sering masyarakat menyampaikan hal tersebut, berapa kali reses hal tsb disampaikan masyarakat,” kata Rina, seraya menyebut perlu ditelusuri lebih lanjut kebenarannya.
Menurut dia, persoalan yang perlu dijawab bukan hanya penyebab kerusakan dermaga, tetapi juga apakah penggunaan fasilitas pelabuhan selama ini telah sesuai dengan fungsi dan peruntukannya.
Rina mengingatkan, apabila aktivitas bongkar muat komoditas sawit dilakukan menggunakan fasilitas yang dibangun untuk pelayanan masyarakat tanpa izin atau perubahan fungsi yang jelas, maka hal tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah dan instansi terkait.
“Harusnya perusahaan punya tersus n pelabuhan khusus, mrk tidak boleh menggunakan fas masy .. yang berakibat fatal spt skrg .. masy sangat dirugikan,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat kini menjadi pihak yang paling terdampak akibat terhentinya layanan penyeberangan. Karena itu, seluruh aktivitas yang berlangsung di kawasan pelabuhan perlu dievaluasi secara menyeluruh.
Rina juga mendesak dilakukannya audit teknis independen untuk mengungkap penyebab pasti kerusakan Dermaga Penyeberangan Sadai. Audit tersebut dinilai penting untuk memastikan apakah kerusakan semata-mata disebabkan faktor usia konstruksi atau terdapat faktor lain yang turut berkontribusi.
Ia menilai kemungkinan dampak aktivitas tongkang terhadap fasilitas pelabuhan tidak boleh diabaikan sebelum ada kajian teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Jika memang benar terbukti dugaan itu, penggunaan tongkang di pelabuhan penyebrangan khusus kapal Fery rentan dan bisa menyebabkan kerusakan MB pelabuhan karna kapal tongkang tidak menggunakan mesin dengan sistem jaringan maju mundur sehingga benturan kapal tongkang bisa menyebabkan MB mudah bergeser dan patah, apalagi dalam cuaca gelombang pasang tinggi, pergerakan gesekan kapal dengan MB jembatan bergerak selama bertahun tahun tentu akan menyebabkan kondisi MB jembatan bergerak mengalami masalah rusak, patah atau pun roboh di tambah kondisi MB memang sudah tua,” katanya.
Sebelumnya, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Bangka menyatakan kerusakan Dermaga Penyeberangan Sadai disebabkan faktor usia konstruksi dan tidak berkaitan dengan aktivitas tongkang sawit.
Supervisor Pelabuhan Penyeberangan Sadai PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bangka, Dedy Triwijaya, mengatakan tongkang sawit tidak menggunakan dermaga penyeberangan yang saat ini mengalami kerusakan.
“Dermaga yang rusak sekarang ini dermaga pelabuhan penyeberangan Sadai. Penyebabnya karena faktor usia konstruksinya, Pak,” kata Dedy.
“Tongkang sawit sandar di dermaga umum UPP Sadai yang di sebelahnya,” tambahnya.
Aksara Newsroom juga masih berupaya memperoleh konfirmasi dari Dinas Perhubungan Kabupaten Bangka Selatan selaku pengelola pelabuhan guna mendapatkan penjelasan lebih lanjut terkait pemanfaatan dermaga penyeberangan tersebut serta dugaan aktivitas bongkar muat sawit yang berlangsung di kawasan Pelabuhan Sadai.
Penulis: Hendri J. Kusuma/D2K

















