AksaraNewsroom.ID – Suasana reses Anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung, Rina Tarol, di Desa Fajar Indah, Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan menjadi wadah penyampaian aspirasi masyarakat.
Sejumlah persoalan mendasar disampaikan warga, mulai dari sektor pertanian, infrastruktur hingga pendidikan.
Keluhan pertama datang dari sektor pertanian, yang menjadi tumpuan hidup sebagian besar warga. Setiap tahun, sawah mereka dilanda banjir tanpa solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah.
“Masalah lahan pertanian (sawah-red), tiap tahun kebanjiran, Bu. Kami mohon dibantu untuk disampaikan ke Balai Wilayah Sungai. Normalisasi kemarin tidak efektif,” ujar Mahfud, yang juga merupakan Ketua BPD Desa Fajar Indah,
Selain itu, kondisi infrastruktur jalan juga menjadi perhatian. Warga mengusulkan perbaikan jalan di sejumlah titik, termasuk akses menuju Serai Talas yang saat ini mengalami kerusakan.
Usulan penambahan penerangan jalan umum juga disampaikan, terutama di titik persimpangan dan kawasan rawan. Beberapa titik jalan yang gelap dinilai rawan kecelakaan, terutama pada malam hari.

Masalah pendidikan juga menjadi sorotan serius. Di SMP Negeri 1 Pulau Besar, warga menilai fasilitas yang ada sudah tidak memadai. “Yang paling penting itu pagar. Anak-anak bisa keluar masuk dengan bebas, ini soal keamanan,” ujar Rasinta.
- Baca Juga: Petani Keluh Beredarnya Pupuk Diduga Palsu, Rina Tarol Minta Uji Kandungan dan APH Turun Tangan!
Ia juga menyebut sejumlah fasilitas lain seperti ruang kantor dan laboratorium komputer membutuhkan perbaikan.
Sementara itu, kondisi di tingkat pendidikan anak usia dini bahkan lebih memprihatinkan.
Salah satu guru TK mengungkapkan bahwa atap sekolah sudah rusak dan mengganggu aktivitas belajar.
“Plafon jebol, kadang burung masuk saat anak-anak belajar. Kami sangat berharap ada bantuan,” tuturnya.
Tak hanya soal infrastruktur, warga juga menyampaikan kebutuhan sosial lainnya. Mulai dari insentif guru TPA, bantuan rumah layak huni, hingga mobil jenazah yang hingga kini belum dimiliki desa.
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Rina Tarol mengakui masih adanya kesenjangan antara perencanaan program dan realisasi di lapangan.
“Sebagian anggaran sebenarnya sudah ada, termasuk bantuan keuangan ke kabupaten. Tapi pelaksanaannya belum maksimal,” jelasnya.
Ia menyebut kondisi tersebut dipengaruhi oleh efisiensi anggaran dan berkurangnya transfer dari pemerintah pusat.
Rina juga menegaskan bahwa tidak semua persoalan berada dalam kewenangan provinsi. Beberapa, seperti pembangunan sekolah dasar dan menengah, merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten.
Meski demikian, ia berjanji akan tetap mengawal aspirasi masyarakat. “Kami akan dorong melalui komunikasi dengan DPRD kabupaten khususnya dari Fraksi Golkar agar bisa ditindaklanjuti,” katanya.
Terkait persoalan sawah, Rina mengingatkan pentingnya menjaga lahan pertanian sebagai bagian dari program ketahanan pangan nasional.
“Lahan sawah tidak boleh dialihfungsikan. Ini penting untuk masa depan,” ujarnya. Di akhir kegiatan, ia meminta warga aktif mengajukan proposal untuk berbagai kebutuhan mendesak agar dapat segera diproses.

Di akhir kegiatan, warga juga memanfaatkan momentum tersebut untuk mendaftarkan sertifikasi halal secara beramai-ramai, yang difasilitasi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bangka Belitung.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Kepala Desa Fajar Indah, perwakilan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disprindag) Provinsi Bangka Belitung, Dinas Sosial, serta Bhabinsa setempat.
(hjk/*)


















