PANGKALPINANG, AksaraNewsroom.ID – Sejumlah figur tampak menampakkan wajah dan tentunya dihiasi slogannya yang terpampang hampir di setiap sudut Kota Pangkalpinang. Tebar pesona para kandidat ke ruang publik erat diindikasikan pasca masing-masing diantara mereka tercatat usai mendaftarkan dirinya ke sejumlah partai politik untuk maju di Pilkada 2024.
Memang meski masa kampanye belum dimulai, namun terpantau oleh Aksara Newsroom, Rabu (12/6) tampak begitu marak bertebaran reklame-baleho beberapa kandidat dari berbagai kalangan seperti sosok petahana, pengusaha hingga tokoh masyarakat, kian menghiasi ruang publik pada setiap sudut kota. Siapa saja mereka?
Misalnya terpantau dari kalangan muda ialah Riky Kurniawan, di reklamenya bertuliskan calon Walikota Pangkalpinang. Secara umum, ia dikenal sebagai sosok pengusaha di sektor perdagangan, dan saat ini menahkodai Ketua KONI Provinsi Bangka Belitung. Riky pun tercatat telah mengambil formulir pendaftaran untuk Pilkada 2024.
Selain itu tak kalah masifnya ialah reklame dari sosok Basit Cinda, yang kerap dikenal oleh banyak kalangan sebagai penguasa di sektor reklame atau billboard. Namanya pun kerap terpampang di halaman papan media iklan tersebut. Ia tercatat pertama kali mendaftarkan dirinya ke PDIP dan beberapa parpol lainnya.
- Baca Juga: Menilik Sederet Kekisruhan di KPU Pangkalpinang, Dihadapkan Sejumlah Laporan dan Tuai Sorotan
- Baca Juga: Kejar Piutang Pajak di Sektor Reklame, Bakueda Pangkalpinang Gandeng Pihak Kejaksaan
Adapun sosok yang tak asing lagi di masyarakat, Maulan Aklil atau dengan nama karibnya Molen, ialah petahana atau mantan Wali Kota Pangkalpinang, yang kembali bertarung di Pilwako 2024. Pengambilan formulir pendaftarannya diawali dari PDI-P hingga beberapa parpol lainnya.
Sosok selanjutnya yang terpantau ialah Prof. Safarudin Masyarif alias Udin. Sebelumnya bersama Edison, Udin pernah bertarung di Pilwako Pangkalpinang 2018, namun kalah dengan pasangan Maulan Aklil-Sopian.

Sementara itu juga hadir dari kalangan perempuan, Elly Gustina Rebuin, yang kerap dengan sebutan nama mentri gorong-gorong dan sempat mengemban jabatan status gubernur. Ia adalah adik dari H. Sofyan Rebuin, mantan Walikota Pangkalpinang. Kini, ia pun dipercayai sebagai Ketua DPD HSNI Babel.
Adapun terpantau hadirnya baleho yang berasal dari kalangan pengacara, DR (c) Erdi Sutanto. Ia pun sebelumnya telah mendaftar diri sebagai bakal calon Walikota Pangkalpinang dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2024 melalui Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).
- Baca Juga: Kasak-kusuk KPU Pangkalpinang Diduga Intervensi PPK Soal PSU
- Baca Juga: Menguji Kekeliruan dan Kesesatan Berpikir, Legitimasi KPU Pangkalpinang Dipersoalkan
Sosok selanjutnya Muhammad Rusdi, anggota DPRD Pangkalpinang periode 2019-2024. Terlihat baleho-baleho miliknya marak bertebaran di sejumlah sudut ruas jalan kota dengan bertuliskan Bacalon Walikota Pangkalpinang 2024-2029.
Adapula dikalangan pengusaha muda lainnya ada Widi Prasetyo Eros. Namun kandidat satu ini terpantau tak begitu masif menebar baleho seperti bacawalkot lainnya. Sebelumnya, Widi juga tercatat telah mengambil formulir pendaftaran di sejumlah parpol.
Upaya Mendongkrak Popularitas
Menurut Akademisi dari Ilmu Politik UBB, Ariandi, masifnya pemasangan baleho meski belum memasuki masa kampanye di ruang publik saat ini sebetulnya adanya upaya hegemoni atau menunjukkan dominasi hingga pengaruh dari seorang kandidat. Ia pun melihat para kandidat yang muncul ke publik saat ini masih dengan cara-cara yang cukup konservatif atau biasa dilakukan dengan media interaksi simbolik.
“Kemudian kita harus melihat sebenarnya pertarungan baliho di awal Ini untuk apa, nah, saya melihat bahwa bertanding eh pertarungan baliho yang kemudian bertebaran di mana-mana itu menunjukkan bahwa adanya upaya untuk menghegemoni,” ujarnya kepada Aksara Newsroom.
Ariandi tidak memungkiri, ada beberapa tahapan bagi bakal calon dalam kontestasi pemilu yang akan berlangsung pada kontestasi kepala daerah. Salah satunya sebagai ajang jelang perebutan mendapatkan rekomendasi parpol dan meningkatkan popularitas.
Ia berkata setidaknya agar para politisi mampu memberikan atensi ataupun menjadi bahan perbincangan untuk mendapatkan sorotan dari parpol, selain melakukan konsolidasi lintas partai hingga mendesain gimick yang diperlukan.
“Dalam upaya mendapatkan rekomendasi ya bahasa yang bisa kita ambil ya tebar pesona gitu, atau ini adalah ajang dimana mereka menampakkan bahwa saya punya keinginan, saya punya maksud sehingga nanti partai politik bisa menjemput maksud tersebut,” katanya.
- Baca Juga: Tebar Pesona Kandidat Pilwako Pangkalpinang Meski Belum Masa Kampanye, Upaya Tingkatkan Popularitas?
- Baca Juga: Apakah Ketua KPU Pangkalpinang Tutup Mata dan Telinga, Disinyalir Abaikan Rekam Jejak dan Aturan Soal Loloskan PPS
Hal tersebut tentunya juga harus sejalan dengan tahapan yang mereka akan kerjakan sebelumnya seperti mendaftarkan diri kepada partai politik, ujar Ariandi, melanjutkan.
Popularitas Saja Tidak Cukup
Menurut Akademisi Politik Ariandi, menjamurnya baliho tidak bisa menjamin elektabilitas seorang kandidat. Akan tetapi dikatakan sah-sah saja sebagai upaya atau ajang untuk mendongkrak popularitas.
Ia menyebut lantaran sebelum kandidat itu dipilih, ada beberapa rumus atau aspek yang harus di lalui, yaitu popularitas, liketability, ecceptability dan yang terakhir elektability.
“Yang pertama populer artinya diketahui atau dikenal, kedua disukai atau tidak, yang ketiga diterima atau tidak dan keempat baru dipilih atau tidak,” kata dia.
Disisi lain, Ariandi menyoroti penempatan baleho maupun spanduk perlu menjadi perhatian atau bukan pada tempat yang semestinya seperti di batang pohon dan lain sebagainya yang dilarang.
“Penempatan baliho yang saya kira juga perlu diawasi oleh penyelenggara pemilu, ” katanya.
Penulis : Hendri J. Kusuma/dd





















