Oleh : Bangun Jaya | Ketua DPC Gerindra Kota Pangkalpinang
S etiap manusia pasti pernah tergelincir. Kita bukan malaikat yang suci, bukan pula setan yang hanya membawa keburukan. Kita adalah manusia—makhluk yang diciptakan dengan akal, rasa, dan pilihan. Dan di antara pilihan-pilihan itu, terkadang kita salah memilih. Namun yang terpenting bukanlah kesalahan itu sendiri, melainkan keberanian untuk mengakuinya dan tekad untuk bangkit dari sana.
Saya ingat betul, dulu Molen berdiri dengan penuh keyakinan. Ia merasa kuat, percaya diri, dan nyaris tak tergoyahkan. Ia sempat jumawa. Tak sedikit yang mengatakan bahwa ia merasa tak terkalahkan. Tapi seperti pepatah lama, “kesombongan datang sebelum kejatuhan.” Dan Tuhan, dengan kasih sayangnya, memberi Molen sebuah teguran yang sangat keras—teguran dalam bentuk kekalahan yang begitu memilukan: kalah dari kotak kosong.
Namun, satu hal yang juga tidak bisa kita pungkiri adalah bahwa selama lima tahun masa kepemimpinannya, wajah Kota Pangkalpinang banyak mengalami perubahan. Kita harus berani jujur dan mengakui, ada begitu banyak karya dan prestasi yang telah ditorehkan. Jalan-jalan kota yang dulu gelap kini terang benderang. Ruang publik tumbuh, kegiatan seni dan budaya mulai hidup, pelayanan publik perlahan membaik. Semua itu tidak bisa disangkal, tidak bisa disepelekan.
Molen memang pernah salah langkah, namun ia juga telah banyak melangkah maju membawa perubahan. Dan itu bukan sesuatu yang bisa diraih oleh mereka yang hanya baru ingin mencoba-coba. Pengalaman lima tahun menjadi wali kota adalah modal besar yang tidak dimiliki oleh calon lain. Ia telah merasakan susahnya memimpin, pahit-manisnya mengambil keputusan, dan kerasnya kritik dari rakyat. Semua itu membuatnya matang secara pribadi dan sebagai pemimpin.
Kini saya melihat Molen yang berbeda. Ia lebih tenang, lebih dalam, lebih peka. Ia lebih memilih untuk mendengar daripada berbicara. Ia lebih ingin mengerti daripada dimengerti. Ia tidak lagi ingin terlihat pintar, ia ingin benar-benar menjadi pribadi yang bijaksana—yang “pintar merasa” daripada “merasa pintar”.
Ia tidak tinggal dalam luka. Ia tidak meratap lama dalam kekalahan. Ia memilih jalan yang sulit—jalan introspeksi, jalan pertobatan, jalan untuk kembali menjadi manusia yang lebih baik. Dan jika rakyat kembali memberinya kesempatan untuk memimpin kota ini, ia tidak akan memulai dari nol. Ia tinggal melanjutkan apa yang sudah dibangun dan menyempurnakan yang belum sempat diselesaikan di periode sebelumnya. Itu akan membuat langkahnya jauh lebih efisien, lebih terarah, dan lebih terukur.
Tak ada kata terlambat untuk bertobat. Tak ada jalan yang terlalu jauh untuk kembali. Tuhan tidak melihat siapa kita di masa lalu, tapi siapa kita hari ini dan ke mana kita melangkah esok. Dan saya percaya, dengan hati yang telah dibersihkan dari kesombongan, dengan tekad yang diperkuat oleh pengalaman pahit, Molen akan kembali. Bukan sebagai orang yang ingin menang, tapi sebagai orang yang ingin memberi.
Kita butuh pemimpin yang telah belajar dari kesalahan. Kita butuh pemimpin yang sudah pernah berdarah-darah dan tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Molen adalah cermin dari itu semua.
- Baca Juga: Raja Diturunkan Dengan Mosi Tidak Percaya




















